Konsultan Amerika Serikat Mengundurkan Diri dari Proyek Bantuan di Gaza Setelah Insiden Rafah
BERITA TERBARU INDONESIA, JALUR GAZA — Boston Consulting Group (BCG), sebuah perusahaan konsultan manajemen terkemuka dari Amerika Serikat, yang terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga kontroversial Gaza Humanitarian Foundation (GHF), telah menarik diri dari proyek tersebut setelah terjadi insiden di Rafah. Berdasarkan laporan pada Selasa (3/6/2025), yang mengutip pernyataan juru bicara perusahaan, penarikan ini dilakukan di tengah laporan mengenai masalah dalam distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah Palestina tersebut.
Pada 1 Juni, beberapa media di AS melaporkan, mengutip dari kementerian kesehatan Gaza, bahwa pasukan Israel menembaki warga sipil yang menerima bantuan dari GHF di Rafah. Pihak militer Israel (IDF) membantah tuduhan ini.
- Presiden Chile Berniat Ajukan UU Larangan Impor dari Israel
- Houthi Terus Kirim Rudal Balistik Targetkan Bandara Ben Gurion
- Israel Mulai Ancam Kapal Kemanusiaan yang Ditumpangi Greta Thunberg dan Liam Cunningham
BCG dipekerjakan pada musim gugur 2024 untuk membantu pengelolaan operasional yayasan tersebut. Namun, kini BCG telah memutuskan kontraknya dan menarik seluruh timnya dari Tel Aviv.
Salah seorang staf senior yang memimpin proyek ini bahkan dilaporkan diskors sementara untuk investigasi internal. Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa GHF akan menghadapi tantangan besar untuk tetap beroperasi tanpa dukungan dari konsultan yang telah membantu membentuk lembaga tersebut.
Sebelumnya, pada 19 Mei, jurnalis melaporkan bahwa Kabinet Keamanan Israel telah memutuskan untuk melanjutkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui saluran yang ada. Berdasarkan rencana tersebut, GHF akan mendistribusikan bantuan ke beberapa titik di Gaza selatan yang dikendalikan oleh militer Israel.
Pada 20 Mei, kepala Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa dimulainya kembali pengiriman bantuan oleh Israel ke Gaza bertujuan untuk menggusur warga Palestina.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyerukan investigasi independen dan menuntut pertanggungjawaban atas insiden yang menewaskan 31 warga sipil di dekat pusat bantuan AS-Israel di Rafah.
Guterres menekankan bahwa Israel memiliki kewajiban sesuai hukum internasional untuk mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan menjamin keselamatan staf PBB.
Otoritas Gaza melaporkan bahwa 31 warga sipil tewas dan 200 lainnya terluka di dekat pusat bantuan di Rafah pada Minggu (1/6/2025), ditembak oleh pasukan Israel.
