Krisis Personel Militer di Israel: Keterlibatan Perempuan di Garis Depan
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Setelah dua dekade konflik di Gaza, Israel menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja dan mulai melibatkan perempuan dalam peran penting.
Sebelum serangan Israel ke Jalur Gaza yang terisolasi, tentara perempuan umumnya bertugas pada pekerjaan seperti menjaga perbatasan dan pos pemeriksaan di Tepi Barat yang diduduki Israel.
- Tak Gentar dengan Ancaman AS-Israel, Begini Langkah-Langkah Persiapan Iran
- Anggap Polusi Udara, Israel akan Larang Adzan di Kota-Kota Palestina, Termasuk Yerusalem
- Seperti Apa Jin Qarin dalam Budaya Klasik Palestina? Ini Penjelasan Singkatnya
Namun, kampanye militer yang berkepanjangan telah mendorong para perempuan ke posisi garis depan di Gaza, Lebanon, dan Suriah.
Dikutip dari Middleeastmonitor, Kamis (12/6/2025), pada bulan Mei, militer Israel mengakui kekurangan lebih dari 10 ribu tentara.
Krisis ini semakin memburuk dengan banyaknya laporan bahwa lebih dari 9.000 tentara cadangan yang terlibat dalam serangan di Gaza kini menjalani perawatan untuk trauma psikologis.
Media Israel telah menyoroti korban perang di kalangan tentara, yang menambah beban kapasitas militer untuk mempertahankan operasi jangka panjang.
Saat ini, satu dari lima tentara tempur di militer Israel adalah perempuan, dengan mereka masuk ke zona tempur yang lebih berbahaya untuk menutupi kekurangan pejuang.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Israel juga menargetkan pria Yahudi ultra-Ortodoks untuk mengikuti wajib militer.
Setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan pengecualian lama, militer berusaha mengintegrasikan kelompok ini, sekitar 13 persen dari populasi, ke dalam dinas aktif.
Walaupun ada perekrutan perempuan, sebagian besar peran tempur elit tetap tidak terbuka bagi mereka, menandakan bahwa peningkatan keterlibatan mereka dalam pertempuran adalah langkah sementara dan bukan perubahan sistemik.
