Tentara Israel Menolak Bertugas Akibat Kelelahan Berperang
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV — Israel kembali dihadapkan pada gelombang penolakan mobilisasi militer. Tentara cadangan yang selama ini menjadi andalan operasi militer di Gaza mengungkapkan kelelahan serta kekecewaan mendalam terhadap konflik yang belum kunjung usai.
Berdasarkan laporan dari sumber terpercaya, semakin banyak tentara cadangan Israel yang menolak untuk dipanggil kembali ke tugas. Mereka mengungkapkan kelelahan fisik dan mental akibat penugasan berulang kali dalam perang yang tidak memiliki titik akhir yang jelas.
Penolakan ini semakin kuat seiring dengan ketegangan internal yang meningkat di Israel terkait prioritas pemerintah dalam menangani konflik berkepanjangan dengan Hamas di Jalur Gaza.
Keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk terus melanjutkan operasi militer, alih-alih fokus pada pembebasan tawanan di Gaza, menjadi titik kritik utama. Banyak pihak menilai pilihan tersebut lebih didorong oleh ambisi politik pribadi Netanyahu dibandingkan kepentingan nasional.
“Perang ini bukan lagi tentang keamanan Israel, melainkan tentang kelangsungan politik Netanyahu,” tulis anggota dan mantan anggota Angkatan Udara Israel dalam surat terbuka yang dirilis pada April lalu. Surat ini kemudian memicu gelombang protes dari unit-unit elit lainnya, termasuk Angkatan Laut dan Mossad.
Ketidakpuasan juga meluas di kalangan publik. Ribuan warga Israel dalam beberapa pekan terakhir turun ke jalan, terutama di depan Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, memprotes keputusan pemerintah untuk memanggil 60 ribu tentara cadangan tambahan.
Mereka mempertanyakan arah kebijakan militer yang telah mengakibatkan lebih dari 52 ribu warga Palestina tewas sejak perang pecah pada Oktober 2023, dengan kebanyakan korban adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara itu, keluarga para tawanan yang masih berada di Gaza semakin gencar menyuarakan kritik. Mereka merasa pemerintah lebih memilih ambisi “kemenangan total” ketimbang menyelamatkan warganya yang masih disandera.
Kebijakan Netanyahu yang sepihak mengakhiri gencatan senjata pada Maret lalu, yang seharusnya bisa membuka jalan bagi pembebasan para tawanan, memperparah keretakan di masyarakat Israel. Kini, pilihan antara mengakhiri perang atau melanjutkan “perang abadi” menjadi perdebatan yang memecah belah bangsa.
Dengan tekanan dari dalam militer dan masyarakat sipil yang semakin besar, masa depan strategi militer Israel di Gaza berada di ujung tanduk.
