Lifting Gas Capai Target APBN, Politisi Golkar: Kolaborasi Prabowo–Bahlil Terbukti
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Abdul Rahman Farisi, Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, memandang pencapaian lifting gas nasional mencapai 120 persen dari target APBN 2025 sebagai bukti efektivitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dijalankan dengan cepat, sinergis, dan terarah bersama jajaran menterinya.
“Dengan langkah cepat dan sinergi di bawah arahan tegas Presiden Prabowo, pencapaian ini dapat terwujud. Kolaborasi antara Presiden Prabowo dan Menteri Bahlil menunjukkan hasil yang positif,” ujar Abdul Rahman.
Pernyataan ini menanggapi penjelasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebutkan bahwa jumlah gas terangkut atau lifting gas nasional telah melampaui target APBN tahun 2025.
“Secara realisasi di kuartal pertama 2025, lifting gas sudah mencapai 120% dari target,” kata Bahlil pada Selasa (27/5).
Dalam APBN 2025, target lifting gas ditetapkan sebesar 1.005 juta barel setara minyak per hari (mboepd). Sementara itu, kinerja lifting minyak bumi baru mencapai 95,87 persen dari target, yaitu sebesar 580 ribu barel per hari (bph) dari target 605 ribu bph.
“Insya Allah, doakan agar target APBN 2025 bisa tercapai,” lanjut Bahlil.
Sebagai perbandingan, realisasi lifting migas pada tahun 2024 tercatat di angka 1.600 mboepd, sedikit di bawah target 1.660 mboepd.
Abdul Rahman Farisi juga menegaskan bahwa cara kerja Menteri Bahlil di bawah arahan dan sikap tegas Presiden Prabowo dapat menjadi contoh terbaik bagi menteri-menteri lainnya dalam mencapai target sesuai visi Presiden.
“Model kepemimpinan seperti ini mencerminkan kesinambungan antara arahan strategis Presiden dan ketegasan pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.
Capaian ini juga memperlihatkan komitmen pemerintahan Prabowo dalam memperkuat ketahanan energi nasional sebagai bagian dari fondasi transformasi ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, keberhasilan dalam sektor lifting gas ini juga membuka peluang bagi peningkatan iklim investasi migas di tanah air.
“Stabilitas produksi energi bukan hanya soal teknis, tapi juga sinyal kuat bagi para pelaku pasar bahwa Indonesia serius dalam menjaga kesinambungan pasokan energi jangka panjang,” tambah Abdul Rahman.
