Makna Tersembunyi dari Ibadah Haji
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Alhamdulillah, tahun ini rangkaian pelaksanaan ibadah haji telah dimulai. Gelombang calon jamaah haji dari Indonesia sudah diberangkatkan sejak awal bulan Mei ini. Sekitar 220 ribu orang dari Indonesia akan menjadi tamu Allah untuk musim haji 1446 H/2025 M.
Haji adalah kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat, termasuk kemampuan (istitha’ah). Selama menjalani haji, jamaah harus mengenakan ihram dari mikat; kemudian bermalam di Muzdalifah dan Mina; melempar jumrah; dan melakukan tawaf wada.
- Menperin Tegaskan Reformasi TKDN Bukan Karena Tekanan Negara Lain
- Perundingan AS-Hamas: Bantuan Kemanusiaan akan Masuk Gaza Palestina
- Eks Pejabat Israel: Trump Bakal Paksa Netanyahu Akui Palestina
Penghambaan
Jamaah haji sering kali disebut sebagai tamu Allah, karena yang bisa mengunjungi Baitullah, Masjidil Haram, hanyalah mereka yang telah diberi kemampuan oleh-Nya. Ada kalanya seseorang yang kaya tidak memiliki keinginan untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini. Sebaliknya, banyak kisah tentang orang miskin yang mendapat kesempatan untuk berhaji.
Kalimat talbiyah, Labaikallah humma labaik, melambangkan kesiapan untuk memenuhi panggilan Allah. Dengan menjadi tamu-Nya, seseorang mengakui dirinya sebagai hamba. Sungguh, segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.
Kesabaran
Haji adalah ibadah yang menuntut kesiapan, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, salah satu aspek istitha’ah adalah kemampuan jasmani dan rohani. Tidak cukup hanya dengan kemampuan finansial untuk memenuhi biaya perjalanan pergi-pulang.
Hampir semua prosesi haji memerlukan kesabaran. Ritual seperti tawaf, sai, atau wukuf akan terasa berat tanpa ketabahan. Itu pula yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail—dua tokoh mulia yang membangun Baitullah.
