Menag Ajak Jajaran Pendidikan Islam Mengintegrasikan Ekoteologi dan Cinta dalam Program
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA— Menteri Agama Indonesia, Prof Nasaruddin Umar, mengajak jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam untuk merancang program-program yang menumbuhkan cinta di antara manusia sebagai dasar ekoteologi.
Cinta ini, menurutnya, dapat menjadi pendorong peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat.
- Nabi Isa Turun Jelang Kiamat, Ikut Umat Muhammad SAW atau Bawa Risalah Sendiri?
- 3 Alasan Trump Berdamai dengan Houthi dan Tinggalkan Israel Menurut para Pakar
- Media Militer Israel Ungkap Trump Jauhi Netanyahu dan Tutup Komunikasi, Ada Apa?
“Kita ingin menampilkan ontology yang berbeda dari teologi maskulin yang selama ini kita kembangkan, sebuah teologi yang secara konfensional dianut oleh kita semua,” kata Menag saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Program Prioritas Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama di Jakarta, Jumat (9/5/2025).
Dalam pertemuan ini, direktur-direktur di Direktorat Pendidikan Islam menyajikan Program Unggulan mereka untuk menyukseskan Program Prioritas Kementerian Agama.
Lebih lanjut, Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan bahwa teologi yang ada saat ini tidak menyentuh aspek kemanusiaan terdalam. “Sehingga kemanusiaan yang kita capai masih dangkal. Yang kita inginkan adalah memanusiakan manusia, alam, binatang, dan semesta,” jelasnya.
Menteri Agama menyadari bahwa istilah memanusiakan alam semesta mungkin terdengar asing bagi masyarakat awam. Namun, jika merujuk pada kitab suci, kita akan menemukan banyak makna cinta, baik untuk sesama manusia maupun alam.
“Memang terdengar aneh, bagaimana secara ontology kita sering memandang alam hanya sebagai benda mati, ada yang hidup, biologis dan non-biologis,” jelas Menag.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof Suyitno, menyampaikan bahwa di antara berbagai program Direktorat Pendidikan Islam, fokus utama dalam menerjemahkan ekoteologi dan kurikulum cinta adalah Green Madrasah dan Green Kampus.
Dia menjelaskan, riset-riset ke depan akan diarahkan pada riset yang berdampak, mencari solusi agar semua layanan Kementerian Agama diperkuat dengan riset dari kampus-kampus dan lembaga penelitian yang ada.
“Khusus terkait lingkungan, ekoteologi akan kita perkuat dengan Green Madrasah dan Green Kampus. Penting juga untuk mengembangkan madrasah berbasis adiwiyata,” jelas Suyitno.
Pada sesi presentasi, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof Sahiron memaparkan berbagai program yang tengah digarap Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, termasuk Internasionalisasi, Peningkatan Akreditasi, Employability, Digitalisasi Layanan, Penguatan Riset, Penguatan Vokasi, Standarisasi Sarpras dan Green Campus, serta Penguatan PTKIS.
BACA JUGA: Pakistan: Negara Islam dengan Nuklir Terbesar ke-7 Dunia, Israel Nafsu Ingin Hancurkan
“Yang ketujuh adalah standarisasi sarpras dan green campus, yang ini nanti terkait dengan ekoteologi, termasuk program SBSN dan PHLN yang diarahkan pada perhatian terhadap lingkungan,” katanya.
Acara ini juga menghadirkan Tokoh Cendekiawan Muslim Indonesia, Haidar Bagir, sebagai kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah dan Terintegrasi.
Turut hadir Staf Khusus dan Staf Ahli Menteri Agama, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, Ses Ditjen Pendis Arskal Salim GP, Direktur Pesantren Basnang Said, Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah, Direktur PI Munir, dan Direktur GTK Madrasah Thobib Al Asyhar. Para Rektor seluruh PTKI di Indonesia juga ikut serta melalui daring.
