Mengalami Kenikmatan dalam Ketaatan kepada Allah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Ibadah bertujuan untuk memperoleh ridha Allah SWT dan merasakan kenikmatan dari ibadah itu sendiri. Namun, banyak orang yang beribadah justru merasa tertekan, terkekang, dan terbebani oleh tanggung jawab ibadah.
Keadaan ini tampaknya bertolak belakang dengan esensi dari syariat ibadah yang semestinya menjadi sumber ketenangan, kenyamanan, dan pencerahan bagi jiwa mereka yang melaksanakannya.
Ironisnya, semakin banyak seseorang beribadah, seringkali batinnya semakin kering, hatinya mengeras, ucapannya kasar, perilakunya tidak sopan, dan tindakannya jauh dari kelembutan.
Seseorang yang demikian biasanya merasa ibadahnya paling benar, merasa paling dekat dengan Tuhan, dan akrab dengan para malaikat. Namun, tanpa disadari, pandangan dan perilaku seperti itu justru menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap maksud dan tujuan utama ibadah.
Suatu ketika, ada seseorang yang mendatangi Hasan al-Bashri dan berkata, “Saya tidak menemukan kenikmatan dalam beribadah.”
Hasan al-Bashri menjawab, “Mungkin kamu terlalu sering bersama orang-orang yang tidak takut kepada Allah, sehingga kamu mengabaikan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.”
Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Abu Yazid, dan beliau menjawab, “Itu karena kamu menyembah ketaatan, bukan Allah. Sembahlah Allah hingga kamu merasakan kenikmatan dalam ketaatan kepada-Nya.”
Dari kedua kisah tersebut, kita dapat memahami bahwa banyak orang beribadah tanpa merasakan kenikmatan, sehingga batinnya kosong, hatinya kering, lidahnya kaku, dan perilakunya kasar.
Kedua orang saleh itu mengungkapkan penyebabnya. Pertama, karena berteman dengan orang yang tidak pantas. Kedua, karena melupakan bahwa tujuan utama ibadah adalah menyembah Allah SWT, patuh dan taat kepada-Nya, bukan menyembah dan mengagungkan ibadah itu sendiri.
Mereka yang terbiasa berteman dengan orang yang salah akan merasa nyaman dengan kesalahan dan dosa mereka, tanpa sadar kesalahan itu menjadi kebiasaannya juga.
