Pakar Militer: Upaya Penguasaan Gaza Tidak Akan Berhasil Seperti Operasi Kereta Gideon
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Brigadir Jenderal Hassan Jouni, seorang ahli militer, menyatakan bahwa rencana Israel untuk menguasai kembali seluruh Jalur Gaza atau membatasi aksinya dengan menduduki Kota Gaza memiliki kemiripan dengan operasi Kereta Gideon, sebuah usaha yang pernah gagal dan kini diulangi dengan nama lain.
Dalam sebuah analisis yang ditayangkan oleh Aljazeera mengenai perkembangan militer di Gaza, Jouni menyoroti bahwa tujuan dari Kereta Gideon adalah menembus pertahanan internal para pejuang, dan dengan demikian, mereka menargetkan tujuan serupa dengan menduduki Kota Gaza.
Pada akhir bulan lalu, Israel Broadcasting Corporation melaporkan bahwa pihak keamanan tengah mengevaluasi beberapa alternatif setelah operasi Kereta Gideon, yang dimulai pertengahan Mei lalu, gagal dalam menyelesaikan isu tawanan.
Namun, Jouni memperkirakan bahwa Israel kemungkinan besar akan kembali gagal dalam usahanya untuk menaklukkan Kota Gaza. Hal ini disebabkan oleh perlawanan yang masih aktif di area Shujaiya, Daraj, Zeitoun, dan Tuffah, yang merupakan perbatasan timur Gaza, sementara di dalam kota, perlawanan semakin kuat karena kondisi kota yang rumit dan strategi perlawanan yang kompleks.
Di tengah perbedaan pandangan di Israel, tampaknya ada kesepahaman antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Eyal Zamir mengenai aksi militer yang akan datang di Jalur Gaza, terutama seberapa jauh operasi militer ini perlu dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pendudukan dan penguasaan Gaza.
Menurut Jouni, perbedaan pandangan yang terus-menerus antara tingkat politik dan militer di Israel berpengaruh pada moral prajurit dan tentara dalam melaksanakan setiap keputusan di lapangan.
Ketidaksepakatan yang terus terjadi antara Netanyahu dan Kepala Staf serta mantan Menteri Pertahanan Yoav Galant, disebabkan oleh fakta bahwa mantan Menteri Pertahanan Yisrael Katz dan Menteri Pertahanan saat ini, Yisrael Katz, tidak berasal dari kalangan militer.
