Pemprov DIY Berencana Memperluas Rute Trans Jogja ke Wonosari
BERITA TERBARU INDONESIA, YOGYAKARTA – Rencana untuk memperluas rute Trans Jogja hingga ke Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapatkan dukungan dari DPRD DIY. Amir Syarifudin, Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, menilai langkah ini penting tidak hanya untuk mengatasi masalah transportasi antar wilayah tetapi juga untuk mempercepat pembangunan di wilayah selatan DIY yang masih mengalami ketimpangan infrastruktur.
Langkah Strategis untuk Mengatasi Kemacetan
Amir menganggap upaya untuk memperluas rute ini sebagai langkah strategis yang harus dilihat sebagai solusi jangka panjang terhadap kemacetan di jalur utama Jogja-Wonosari. “Usulan pembukaan rute Trans Jogja ke Wonosari perlu kita dukung bersama. Namun, perhatian juga harus diberikan pada jalur-jalur alternatif yang dapat mendukung kelancaran lalu lintas serta membuka akses bagi daerah yang belum tersentuh pembangunan secara maksimal,” katanya, Sabtu (14/6/2025).
Kebutuhan Pengembangan Jalur Alternatif
Menurut Amir, fokus yang hanya diberikan pada jalur utama tidaklah cukup. Dia menyoroti perlunya pengembangan jalur alternatif yang selama ini kurang diperhatikan. Salah satu jalur yang mendapat perhatian dari Komisi C adalah jalan penghubung Mutihan-Srimartani, yang menuju ke Kalurahan Srimartani, Piyungan. Jalur ini sebelumnya telah menjadi bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung konektivitas antarwilayah.
“Jalur Mutihan-Srimartani ini seharusnya bisa dikembangkan lebih lanjut. Jika dikelola dan diperbaiki, ini bisa menjadi akses penting untuk mengurangi beban jalan utama dan membuka keterisolasian beberapa wilayah di sekitarnya,” ujarnya.
Hambatan Status Tanah Incalve
Amir juga menyoroti salah satu hambatan utama dalam pengembangan infrastruktur di Gunungkidul, yaitu status tanah incalve. Dia mencontohkan kondisi ruas jalan Cino Mati, yang selama ini tidak dapat dikembangkan secara maksimal karena terhambat oleh status kepemilikan lahan yang rumit.
“Masalah tanah incalve memang tidak mudah. Namun, bukan berarti dibiarkan begitu saja. Ini adalah jalan penting untuk mendukung konektivitas wilayah. Komunikasi antara instansi dan masyarakat pemilik lahan harus terus dibangun,” katanya.
Fokus pada Wilayah Strategis
Lebih lanjut, wilayah Playen-Mangunan yang dinilai sangat strategis baik sebagai penghubung antar-kecamatan maupun dalam konteks pengembangan pariwisata kawasan selatan DIY juga mendapatkan perhatian. Amir mengungkap bahwa kawasan ini harus mendapatkan perhatian serius untuk mendukung rute Trans Jogja yang baru. Kehadiran Trans Jogja sebagai transportasi publik yang terjangkau dan aman harus diimbangi dengan infrastruktur yang memadai.
Beberapa kebutuhan mendesak yang menjadi catatan penting antara lain adalah pengaspalan jalan-jalan yang masih berupa tanah atau berbatu, pemasangan lampu penerangan jalan umum (LPJU), serta perbaikan drainase dan bahu jalan untuk mengantisipasi kerusakan saat musim hujan. Komisi C DPRD DIY siap untuk terus mengawal proses perencanaan dan realisasi program ini, termasuk dalam forum pembahasan anggaran dan perencanaan pembangunan daerah, serta mendorong sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh pemangku kepentingan agar tidak ada wilayah yang tertinggal dalam pembangunan transportasi.
“Jika kita ingin menghadirkan layanan transportasi publik yang berkualitas, infrastrukturnya harus siap. Jangan sampai nanti bus Trans Jogja tidak dapat melintasi daerah-daerah tertentu hanya karena jalannya rusak atau gelap,” tegasnya.
“Ini bukan hanya soal membuka rute bus. Ini tentang membuka akses, membuka peluang ekonomi, pendidikan, dan layanan dasar bagi masyarakat. Gunungkidul tidak boleh lagi menjadi wilayah yang terpinggirkan secara infrastruktur,” tambahnya.
