Apakah Puasa Arafah Harus Bertepatan dengan Wukuf Jamaah Haji?
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat Islam agar menjalankan puasa sunah pada hari Arafah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau menjelaskan bahwa puasa sunah Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.
Sejak 1 Dzulhijjah, Nabi SAW sering memotivasi para sahabat untuk terus melakukan amal saleh. Ini karena amal baik yang dilakukan dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allah SWT dan dianggap setara dengan pahala mati syahid.
- HP Terjatuh ke Air? Ini 5 Mitos yang Membuat Gadget Semakin Rusak
- Rp 384 Juta untuk Korban Longsor Gunung Kuda, Kemensos: Langsung Diterima Wakil Keluarga
- Video Aljazeera Menunjukkan Detik-detik Kepala Tentara Israel yang Menyamar Hancur Kena Bom
Penekanan ini bertujuan agar umat Islam terbiasa merayakan syiar Dzulhijjah yang begitu agung di sisi Allah SWT. Puncaknya adalah tanggal 10 Dzulhijjah, hari raya Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.
Kata ‘kurban’ berasal dari bahasa Arab ‘qaruba-yaqrubu’ yang berarti mendekat. Artinya, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menyembelih hewan kurban.
Pelaksanaannya harus dilakukan sehari setelah Arafah, yaitu setelah shalat Idul Adha. Jika penyembelihan dilakukan sebelum shalat Idul Adha, maka itu bukan kurban, tetapi sedekah biasa.
Kapan Puasa Arafah Dilaksanakan?
Kata arafa memiliki akar kata yang sama dengan arafa ya’rifu (mengenali). Di Bukit Arafah, Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali setelah diturunkan oleh Allah Ta’ala ke bumi.
Padang Arafah juga menjadi tempat bagi jamaah haji untuk melakukan wukuf. Momen ini sangat penting. Nabi Muhammad SAW menegaskan, ‘Haji adalah Arafah.’ Artinya, puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah.
Sumber: Ustaz Dr Amir Faishol Fath
