Ratusan Pelajar SMA/SMK Bermasalah Mulai Dikirim ke Barak Militer di Lembang
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG BARAT–Walaupun mendapat berbagai kritikan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tetap mengirimkan pelajar bermasalah untuk menjalani pendidikan karakter. Saat ini giliran ratusan pelajar SMA/SMK yang dikirim ke barak militer di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Para pelajar yang memiliki berbagai latar belakang permasalahan mulai berdatangan di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi pada Sabtu (3/5). Namun hingga Senin (5/5), pelajar dari berbagai daerah di Jawa Barat masih terus berdatangan untuk mendapatkan pembinaan langsung dari anggota TNI. Mereka dijadwalkan menjalani program ini selama dua minggu.
“Saat ini yang datang ke sini umumnya ada yang kecanduan minuman, game online, banyak juga yang kecanduan merokok, dan terlibat geng motor. Secara umum mereka memiliki kesadaran untuk berubah, namun di rumah mereka tidak dapat melakukannya,” ungkap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai mengunjungi Dodik Bela Negara Lembang.
Ia menjelaskan bahwa pengiriman anak bermasalah ke barak militer akan dilakukan secara bertahap di Jawa Barat. Dedi menyatakan bahwa semakin banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya untuk mengikuti pendidikan karakter ini.
“Nanti kita atur gelombang, gelombang pertama misalnya 500, kedua 500, dan akan terus berlanjut sepanjang tahun. Akhirnya banyak yang berbondong-bondong menitipkan anaknya,” ujar Dedi.
Selama berada di barak militer, para pelajar dengan berbagai persoalan kenakalan remaja akan mendapatkan pendidikan mengenai bela negara, wawasan kebangsaan, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), kedisiplinan, anti narkoba, pendidikan agama, dan lainnya.
“Pertama-tama fokus pada kedisiplinan, membangun disiplin. Makan, mandi, shalat tepat waktu. Itu yang dikembalikan karena mereka rata-rata tidur jam 4, tadi saya tanya orang tua. Kita kembalikan jam tidur pada jam 8 atau 9, paling malam jam 10, sehingga siklus itu kembali,” jelas Dedi.
Walaupun mendapatkan pembinaan ala militer, mantan Bupati Purwakarta itu memastikan anak-anak tetap mendapatkan pelajaran seperti di sekolah. “Setelah disiplin, baru mengikuti pelajaran sekolah. Bisa guru datang ke sini atau TNI yang menjadi guru, nanti diberi insentif khusus. Sehingga bisa belajar seperti biasa, nanti olahraga juga kita fasilitasi,” tambahnya.
Dia melanjutkan, pendidikan karakter ala militer ini diyakini mampu mengubah perilaku dan kebiasaan para pelajar. “Dan saya lihat setelah dua malam, yang biasa tidur jam 4 sekarang sudah tidur jam 9, yang biasa merokok sudah berhenti,” katanya.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menambahkan bahwa untuk gelombang pertama bagi pelajar SMA/SMK ini, pihaknya menyiapkan 350 kuota bagi anak-anak dengan berbagai permasalahan di lingkungannya.
“Yang sudah datang ada 201 pelajar dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, kami siapkan 350 kuota untuk gelombang pertama. Mereka sudah mendapatkan izin dari orang tua secara lisan dan tertulis,” jelas Maman.
Dia menjelaskan, dari berbagai materi yang disiapkan, pihaknya menyisihkan waktu sekitar dua jam bagi pelajar untuk mengikuti materi pembelajaran formal seperti di sekolah. “Setiap hari ada 2 jam untuk pembelajaran formal sesuai kurikulum sekolah. Kami ingin memastikan anak-anak tidak ketinggalan pelajaran,” ujarnya.
