RDF Rorotan Dipandang Kurang Efektif dalam Pengelolaan Sampah Jakarta
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pengelolaan sampah melalui Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, dianggap tidak optimal dalam mengurangi volume sampah di Jakarta. Dari 2.500 ton sampah harian yang masuk ke RDF Rorotan, hanya 875 ton yang dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri.
“Efektivitasnya hanya mencapai 35 persen dalam pengolahan menjadi bahan bakar alternatif. Sisanya tetap menjadi sampah yang akan menumpuk di area RDF Rorotan,” tutur Gusti Raganata, pengamat kebijakan publik dan lingkungan dari Sigmaphi Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (28/5/2025).
Volume sampah yang berhasil dikeringkan dan diubah menjadi pelet bahan bakar alternatif sangat kecil dibandingkan jumlah sampah yang masuk. Gusti memperingatkan bahwa sampah akan terus bertumpuk di area RDF Rorotan.
Jika tumpukan sampah di RDF terus bertambah, ada potensi risiko bencana lingkungan seperti longsor, kebakaran, ledakan, dan pencemaran udara. “Akhirnya, Pemerintah Provinsi Jakarta mungkin harus mencari lahan baru untuk membangun RDF plant lain, jika terus menggunakan RDF untuk pengolahan sampah,” tambah Gusti, yang juga pendiri start-up di bidang sampah, Envmission.
Di tengah keterbatasan lahan di Jakarta, mencari lokasi untuk RDF plant baru bukanlah hal yang mudah, kecuali dengan biaya yang sangat tinggi. Tidak mengherankan bahwa kota-kota besar di dunia saat ini tidak lagi menggunakan RDF plant untuk pengelolaan sampah.
Berbeda dengan Jakarta yang masih mengandalkan RDF plant, meskipun RDF tidak dapat memproses sampah dengan cepat. Timbulan sampah di Jakarta, termasuk di Bantargebang, sudah dalam kondisi darurat.
“Pernyataan Menteri Lingkungan Hidup Hanif bahwa teknologi RDF sudah sangat canggih, tidak sepenuhnya benar,” kata Gusti, yang juga lulusan magister kebijakan publik dari Universitas Tokyo.
Gusti menambahkan bahwa teknologi RDF telah beberapa kali gagal diterapkan di beberapa wilayah Indonesia. “Teknologi RDF terbukti gagal diimplementasikan di beberapa daerah seperti Cirebon, Bali, dan Bantar Gebang,” ujarnya.
Pengelolaan sampah dari RDF Plant memang dapat menghasilkan bahan bakar alternatif yang bisa digunakan oleh pabrik semen dan pembangkit listrik. Namun, Gusti menekankan bahwa belum tentu bahan bakar alternatif tersebut sesuai dengan kebutuhan dan dapat digunakan secara efektif oleh pabrik semen dan pembangkit listrik.
Selain itu, Gusti menilai bahwa pelet dari pengolahan sampah dengan RDF justru berpotensi memperpanjang usia Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara. Gusti membandingkan RDF dengan intermediate treatment facility (ITF) yang lebih banyak digunakan di kota-kota besar dunia. Menurutnya, Jepang, Singapura, dan banyak negara Eropa menggunakan ITF karena lebih ramah lingkungan dan menghasilkan listrik.
Jakarta telah melelang pelaksanaan proyek ITF tetapi belum direalisasikan, diduga karena banyak pihak yang merasa terancam kehilangan pendapatan jika proyek ITF berjalan. Saat ini, APBD Jakarta yang dihabiskan untuk menangani sampah mencapai Rp 3,4 triliun per tahun. Sebesar Rp 2,9 triliun digunakan untuk mengolah dan mengangkut sampah. Sekitar Rp 500 miliar dihabiskan untuk mengelola dan menyewa lahan TPA di Bantargebang, Kota Bekasi.
Saat ini, operasional RDF Rorotan di Jakarta Utara dihentikan sementara karena menimbulkan bau busuk dan menyebarkan asap hitam ke area perumahan sekitar. Warga beberapa kali menggelar unjuk rasa dan menyampaikan penolakan terhadap proyek Pemprov Jakarta itu.
Pekan lalu, Menteri LH Hanif meminta RDF Rorotan dioperasikan kembali paling lambat pada Juni 2025. Permintaan ini lebih cepat dari rencana awal Dinas Lingkungan Hidup Jakarta yang ingin membuka kembali fasilitas tersebut pada September mendatang.
