Generasi Z dan Tantangan Seksual: Quo Vadis Para Orang Tua?
Oleh: dr Rafdi Ahmed, Sp.DVE – Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Generasi Z adalah kelompok yang lahir setelah 1997, berkembang di era digital dengan akses tanpa batas ke internet dan media sosial. Situasi ini membuat mereka menjadi cepat belajar, tetapi juga lebih rentan terhadap berbagai pengaruh, termasuk di bidang seksualitas.
Sebagai dokter spesialis dermatologi venereologi estetika yang menangani kasus infeksi menular seksual (IMS), saya mengamati peningkatan kejadian IMS di kalangan remaja.
Banyak dari mereka terlibat dalam hubungan seksual tanpa pemahaman yang memadai, baik secara fisik maupun emosional. Mereka pun seringkali tidak sadar akan risiko tertular IMS.
Remaja yang berkonsultasi biasanya datang secara diam-diam, tanpa didampingi orang tua, dan dalam kondisi mental yang mengkhawatirkan.
Informasi yang mereka dapatkan sering kali berasal dari internet atau teman sebaya, bukan dari orang tua, dan mereka menganggap seks bebas sebagai bagian dari gaya hidup modern. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kurangnya peran orang tua dalam membimbing anak di tengah derasnya arus informasi digital.
Masa remaja adalah fase kompleks yang ditandai dengan lonjakan hormon, perkembangan seksual, dan pencarian jati diri. Pada tahap ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecenderungan perilaku seksual berisiko pada remaja.
Ini termasuk meningkatnya libido, kurangnya pengetahuan, pengaruh teman sebaya, kekerasan seksual, tekanan ekonomi, serta absennya peran orang tua dalam memberikan nilai dan batas moral.
Tanpa bimbingan dari keluarga, khususnya orang tua, remaja dapat tersesat, terutama karena terpapar konten seksual eksplisit. Sayangnya, banyak orang tua masih menganggap diskusi tentang seksualitas sebagai hal yang tabu.
Padahal, komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan antara orang tua dan anak jauh lebih efektif dalam mencegah perilaku berisiko daripada sekadar larangan. Dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak, termasuk dalam menjaga kehormatan dan adab pergaulan.
Mengedukasi anak tentang seksualitas bukan berarti membebaskan mereka untuk bertindak semaunya atau menyetujui hubungan seksual pranikah, melainkan memberikan pemahaman tentang tanggung jawab, nilai agama, serta pentingnya menjaga kehormatan diri.
Anak perlu menyadari bahwa tubuh mereka adalah amanah dan dalam Agama Islam, adab dalam pergaulan harus dikedepankan. Orang tua harus menjadi sumber utama nilai dan informasi, sehingga dunia luar tidak akan mengambil alih peran tersebut dengan risiko menyampaikan pesan yang tidak sesuai.
Keberanian dan kebijaksanaan orang tua untuk membuka ruang dialog yang sesuai usia, dengan empati, nilai agama, dan komunikasi dua arah sangat diperlukan untuk mencegah remaja terjerumus dalam perilaku seksual berisiko.
Peran aktif orang tua tidak hanya melindungi anak dari risiko IMS atau kehamilan tidak diinginkan, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mereka.
Orang tua sebagai role model terdekat remaja, akan membantu mereka dalam bersikap secara praktikal. Dengan demikian, diharapkan orang tua generasi Z dapat membimbing anak-anaknya dengan menggabungkan ilmu, cinta, dan keteladanan agar tumbuh menjadi pribadi yang bermoral, sehat, dan bertanggung jawab, sehingga tercapai harapan generasi penerus yang berahlakul karimah.
