SCG Memotivasi Generasi Muda untuk Menghadapi Perubahan Iklim Melalui Beasiswa dan Aksi Komunitas
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Perubahan iklim yang semakin nyata memerlukan peran aktif generasi muda dalam tindakan konkret di tingkat lokal. Menyikapi tantangan ini, SCG Indonesia melaksanakan program ‘Sharing the Dream 2025’, yang mengkombinasikan dukungan pendidikan dengan pengembangan proyek komunitas berbasis lingkungan.
Presiden Direktur SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum, berpendapat bahwa upaya penanggulangan perubahan iklim tidak dapat hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau sektor industri. Peran anak muda dianggap penting karena mereka akan menghadapi dampak terpanjang dari krisis tersebut.
‘Perubahan iklim tidak bisa diatasi sendirian. Anak muda perlu terlibat dalam aksi nyata yang berdampak langsung,’ ujarnya dalam acara ‘Media Roundtable Sharing the Dream 2025’ di Jakarta, Kamis (17/5/2025).
Program ini menyediakan beasiswa tahunan sebesar Rp2 juta untuk pelajar SMA dan Rp8 juta untuk mahasiswa, serta dana proyek komunitas hingga Rp15 juta.
Sebagai tambahan dari dukungan finansial, peserta juga mendapat pelatihan keterampilan seperti komunikasi publik dan bahasa Inggris, yang dirancang untuk mendukung kapasitas kepemimpinan mereka.
Brand & Communication Manager SCG Indonesia, Amanda Dwi Ayu Utari, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat keterlibatan anak muda dalam isu keberlanjutan. Ia menekankan pentingnya pemberdayaan yang terstruktur agar aksi lingkungan tidak berhenti hanya pada kesadaran.
‘Indonesia punya visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Tapi tantangannya tidak kecil, salah satunya perubahan iklim. Jika anak mudanya belum siap, bagaimana kita bisa mencapainya?’ kata Amanda Dwi Ayu Utari.
Amanda menyatakan bahwa mayoritas anak muda merasa belum siap menghadapi perubahan iklim. Data UNICEF 2023 menunjukkan sekitar 70 persen generasi muda belum memiliki kepercayaan diri maupun kapasitas dalam merespons isu lingkungan yang semakin mendesak.
Amanda juga menyoroti bahwa sebagian besar sampah nasional atau sekitar 60 persen, berasal dari rumah tangga dan sekolah, tempat anak-anak muda menghabiskan sebagian besar waktunya. ‘Karena itu, perubahan perilaku dan pendidikan lingkungan harus dimulai sejak dini,’ katanya.
Salah satu penerima program beasiswa, Alya Zahra Sabira, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan proyek ‘Lembur Lestari’ di Sukabumi, Jawa Barat. Program ini berfokus pada edukasi lingkungan berbasis warga dengan penekanan pada pengelolaan sampah organik dan kepemimpinan remaja.
‘Tempat pembuangan akhir di daerah kami sudah hampir penuh. TPS sementara juga tidak layak dan mencemari lingkungan. Dari situ kami memulai ‘Lembur Lestari’ agar warga dan anak-anak bisa ikut ambil peran,’ ujar Alya.
Alya melibatkan remaja usia 13–17 tahun sebagai ‘Lembur Lestari Warriors’ yang dilatih tentang isu perubahan iklim dan kepemimpinan. Selain itu, mereka mengajak 40 rumah tangga untuk memilah dan menyetorkan sampah organik ke saluran kompos yang dikelola komunitas. Hingga saat ini, inisiatif tersebut telah mengolah lebih dari 600 kilogram sampah organik dan menghasilkan produk kompos untuk pertanian lokal.
Sebagian hasilnya dikembangkan menjadi gardening kit berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang interaktif dan edukatif. Kit ini dibuat untuk menarik minat generasi muda mengenal pertanian perkotaan dan daur ulang berbasis teknologi. ‘Hal kecil seperti sampah organik sering dianggap remeh, padahal bisa jadi solusi lokal untuk masalah global,’ kata Alya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan akademisi agar proyek seperti ‘Lembur Lestari’ bisa bertahan dan diperluas. Alya berharap lebih banyak anak muda berani memulai inisiatif serupa, meski dari skala terkecil sekalipun.
Program ‘Sharing the Dream’ sendiri telah menjangkau lebih dari 1.100 penerima manfaat di Indonesia. Program serupa juga berjalan di lima negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Filipina.
