Skip to content
logo-Berita-Terkini-Indonesia

BTI

Liputan Berita Terkini Indonesia

Primary Menu
  • Home
  • pemerintahan
  • Politik dan Hukum
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Hak Asasi Manusia
  • Home
  • Berita
  • Asal Usul Puasa Sunnah Asyura dan Tasu’a: Inspirasi dari Rasulullah SAW
  • Berita

Asal Usul Puasa Sunnah Asyura dan Tasu’a: Inspirasi dari Rasulullah SAW

Rina Kartika Juli 4, 2025
sejarah-puasa-sunnah-asyura-dan-tasua-berawal-dari-keinginan-rasulullah-saw

Asal Usul Puasa Sunnah Asyura dan Tasu’a: Inspirasi dari Rasulullah SAW

BERITA TERBARU INDONESIA,JAKARTA — Puasa sunnah Asyura dan Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Berdasarkan kalender Hijriah 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, 9 dan 10 Muharram 1447 Hijriyah jatuh pada tanggal 5 dan 6 Juli 2025.

Umat Islam dianjurkan untuk mengerjakan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW, selain melaksanakan ibadah wajib dalam agama Islam.

Prof KH Ahsin Sakho Muhammad, seorang ahli tafsir dan hukum Islam, menjelaskan sejarah awal dari puasa sunnah Asyura dan Tasu’a. Ini berawal ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah pada bulan Rabiul Awal. Setelah beberapa bulan di Madinah, Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang Yahudi di Madinah berpuasa pada hari Asyura, tanggal 10 Muharram.

Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada mereka (orang-orang Yahudi), “Mengapa kamu berpuasa?”

Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Raja Firaun.”

Pada tanggal 10 Muharram, Nabi Musa dan Bani Israil berhasil menyeberangi Laut Merah yang terbelah setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya, sehingga mereka selamat dari kejaran pasukan Raja Firaun. Oleh karena itu, kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura atau 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukur mereka.

Nabi Muhammad SAW kemudian menyampaikan kepada kaum Yahudi bahwa beliau lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada mereka, Bani Israil. Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada kaum Yahudi bahwa beliau melanjutkan tugas kenabian dari nabi-nabi sebelumnya.

Akhirnya, Nabi memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Kiai Ahsin menjelaskan, kemudian turun ayat Alquran yang berhubungan dengan puasa di bulan Ramadhan. Maka puasa yang sebelumnya dilakukan pada 10 Muharram digantikan dengan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan bahwa berpuasa pada tanggal 10 Muharram dapat menghapuskan dosa-dosa selama satu tahun. Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu. (HR Imam Muslim).

Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa jika diberi umur panjang hingga tahun depan, beliau akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram.

Menurut Kiai Ahsin, puasa pada tanggal 9 Muharram bertujuan agar berbeda dengan kaum Yahudi, sehingga puasa dilakukan selama dua hari, mulai dari tanggal 9 hingga 10 Muharram. Namun, Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Muharram tahun berikutnya.

Kiai Ahsin menambahkan, ada beberapa hal yang harus dicatat dari sejarah puasa Asyura ini. Pertama, puasa sunnah ini merupakan bentuk tenggang rasa dan toleransi Nabi Muhammad SAW terhadap orang Yahudi. Di sini, Rasulullah SAW ikut berpuasa pada tanggal 10 Muharram seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Madinah.

Nabi juga, ketika sampai di Madinah, menghadap ke Baitul Maqdis di Yerusalem selama sekitar satu setengah tahun untuk shalat, seperti orang-orang Yahudi di Madinah yang shalat menghadap ke Baitul Maqdis.

Menurut Kiai Ahsin, itulah cara Nabi bertoleransi terhadap orang Yahudi di Madinah.

Kiai Ahsin juga menceritakan saat belajar di Madinah, dia sempat diajak oleh seorang dosen ke istana orang Yahudi yang sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW. Di sana, ada mihrab yang masih menghadap ke Baitul Maqdis.

Lantas, apakah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram atau puasa Asyura dan Tasu’a disunahkan? Kiai Ahsin mengatakan bahwa puasa Asyura dan Tasu’a tersebut disunahkan karena itu adalah keinginan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi berniat melaksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram di tahun yang akan datang, tetapi Nabi SAW wafat terlebih dahulu.

“Jadi, jika seorang Muslim berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, itu sangat baik, karena orang yang menghidupkan sunah-sunah Nabi akan mendapatkan pahala,” jelas Kiai Ahsin.

Continue Reading

Previous: Striker Kanada Jonathan David Mendarat di Turin, Selesaikan Transfer ke Juventus
Next: Nabi Adam Melakukan Puasa di Bulan Muharram Sebagai Tanda Syukur

Related News

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
auto7slot auto7slot auto7slot

You may have missed

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
viral-meme-tanah-nganggur-diambil-negara-menteri-nusron-minta-maaf-ini-penjelasan-maksudnya
  • Berita

Meme Tanah Nganggur Jadi Viral, Menteri Nusron Meminta Maaf, Berikut Penjelasannya

Dedi Saputra Agustus 12, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.