Hentikan Kekerasan di Sekolah, Anak Diajarkan Berani Angkat Suara
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) mendorong anak-anak agar memiliki keberanian untuk mencegah dan melawan segala bentuk kekerasan, terutama di lingkungan sekolah. Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menekankan pentingnya sikap proaktif ini.
“Biasanya, kejadian dimulai dengan keberanian untuk angkat bicara terlebih dahulu. Oleh karena itu, kami mengimbau dan mengajak semua pihak di lingkungan sekolah untuk melapor sejak dini,” kata Iin pada Senin (14/7/2025).
Imbauan ini muncul di tengah kenyataan bahwa kekerasan terhadap anak masih sering terjadi di ibu kota, meskipun sosialisasi terus dilakukan. Data dari Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPPA) DKI Jakarta menunjukkan betapa mendesaknya permasalahan ini. Hingga Juli 2025, terdapat 1.113 kasus kekerasan terhadap anak yang telah ditangani, menyusul total 2.041 kasus sepanjang 2024. Angka-angka ini menjadi perhatian serius untuk evaluasi berkelanjutan bagi Iin dan timnya.
Menurutnya, Dinas PPAPP berkomitmen untuk terus mengintensifkan sosialisasi, khususnya kepada anak-anak, guna membekali mereka dengan pengetahuan dan keberanian untuk melindungi diri. Berbagai bentuk kekerasan yang sering dialami anak-anak atau siswa, seperti celaan fisik dan sakit hati, menjadi fokus edukasi. “Kita harus pastikan mereka mendapat edukasi terlebih dahulu, setelah itu dimotivasi, implementasinya adalah bersama-sama,” ujar Iin.
Selain anak-anak, peran guru dan terutama orang tua siswa juga sangat penting dalam upaya pencegahan kekerasan ini. Iin mengatakan keluarga adalah sekolah utama bagi anak. Oleh karena itu, lingkungan rumah harus menjadi tempat yang aman, bukan sebaliknya menjadi sumber belajar kekerasan.
“Orang tua siswa juga harus peduli karena pendidikan utama ada di keluarga. Ketika orang tua peduli dan mendidik anak-anak dengan baik, Insyaa Allah dimanapun mereka berada, mereka akan baik,” ujarnya.
Untuk menghindari kekerasan, Iin mengimbau anak-anak untuk bijak dalam menggunakan media sosial serta selalu memerhatikan lingkungan internal dan eksternal mereka. Membangun kebersamaan dan solidaritas juga dianggap sebagai kunci agar semua pihak dapat saling bahu-membahu mencegah kekerasan. Harapannya, anak-anak dapat tumbuh menjadi agen perubahan.
“Kita ingin anak-anak kita, siswa-siswa ini menjadi agen perubahan. Ketika mereka keluar dari sekolah atau di luar pintu gerbang, mereka juga adalah anggota masyarakat yang bisa menjadi pelopor bagi masyarakat di lingkungannya,” ujar Iin.
