Indonesia dan Perannya dalam Ekonomi Syariah Dunia
Indonesia kini tidak hanya menjadi pasar bagi produk halal global, tetapi juga berperan aktif sebagai pelaku utama. Dalam sektor modest fashion, Indonesia berhasil mencapai posisi teratas dunia, mengungguli Turki dan Uni Emirat Arab. Merk lokal seperti Zoya dan Buttonscarves telah memasuki pasar global, didukung oleh ekosistem gaya hidup halal yang semakin berkembang.
Pada tahun 2023/24, Indonesia mencatat rekor sebagai negara dengan nilai investasi halal terbesar, mencapai USD 1,6 miliar dalam 40 kesepakatan. Dengan meningkatnya tren konsumsi etis secara global, ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi halal di Indonesia. Peluncuran super-app halal oleh pemerintah menunjukkan langkah maju dalam digitalisasi layanan sertifikasi dan penguatan tata kelola.
Namun, upaya ini masih belum cukup. Malaysia, dengan sistem sertifikasi halal JAKIM yang telah menjadi standar internasional, tetap memimpin GIEI selama 11 tahun berturut-turut. Negara ini tidak hanya proaktif dalam sertifikasi, tetapi juga pandai memanfaatkan ekonomi halal sebagai alat diplomasi dan industrialisasi, didukung oleh keuangan syariah dengan pangsa pasar lebih dari 40% dari total industri keuangan nasional. Sebaliknya, Indonesia masih berjuang dengan harmonisasi standar dan percepatan sertifikasi halal serta penetrasi keuangan syariah yang masih di bawah 11% pada akhir 2024, terutama untuk sektor UMKM halal.
Inovasi dan Tantangan Ekonomi Syariah
Malaysia unggul tidak hanya dalam strategi, tetapi juga dalam keberanian berinovasi. Laporan SGIE mencatat dominasi Malaysia dalam keuangan syariah, makanan halal, dan pariwisata ramah Muslim. Saudi Arabia juga tampil agresif dengan Vision 2030 dan dana abadi PIF-nya, yang berinvestasi di berbagai sektor halal global. Bahkan Senegal, negara Afrika yang sebelumnya terabaikan, naik 18 peringkat berkat reformasi regulasi dan klaster ekspor halal. Lalu, mengapa Indonesia masih tertinggal dalam ekspor produk halal?
Peran KNEKS sebagai Arsitek Strategi
Dibalik pencapaian Indonesia, peran Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) sangat vital. Sebagai pengatur kebijakan di bawah kendali langsung Presiden, KNEKS telah membangun ekosistem lintas sektor: dari industri halal, keuangan syariah, dana sosial syariah (zakat, infaq, wakaf), hingga sektor riil. Namun, tantangannya kini adalah memperkuat fungsi eksekusi, bukan hanya berhenti pada rekomendasi kebijakan. Dibutuhkan lompatan dalam integrasi lintas kementerian dan digitalisasi layanan agar ekosistem halal Indonesia tidak terjebak dalam silo dan ego sektoral.
Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, lebih dari 230 juta jiwa, dan menjadi kontributor utama dari proyeksi 540 juta pemuda Muslim global pada 2030, Indonesia memiliki aset demografis yang strategis. Pemuda Muslim Indonesia bukan hanya konsumen, tetapi juga inovator dan pencipta konten halal. Ini adalah kekuatan sosial-budaya yang dapat mengangkat Indonesia sebagai pusat produksi, bukan hanya pasar.
Langkah Menuju Aksi Nyata
Reposisi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi syariah dunia perlu menjawab tantangan ini. Membangun ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi menjadi kebutuhan penting dan mendesak, menghubungkan industri halal, pembiayaan syariah, dana sosial syariah, dan sektor riil dalam satu ekosistem yang saling menopang. KNEKS dapat mendorong integrasi data antar-sektor serta mendukung skema fiskal yang kondusif bagi pelaku usaha halal.
Indonesia juga bisa memimpin diplomasi halal di kawasan ASEAN dengan mendorong harmonisasi standar halal negara OKI, sekaligus memfasilitasi koridor perdagangan halal intra-regional. Dengan inovasi seperti super-app halal, pendekatan serupa bisa diperluas ke sektor pembiayaan syariah, pariwisata halal, hingga pendidikan dan media digital. Untuk itu, tiga langkah strategis perlu segera diimplementasikan:
- Memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi halal Asia, dengan meniru agresivitas promosi seperti yang dilakukan UAE dan Arab Saudi. Pembangunan kawasan industri halal berbasis ekspor dan insentif fiskal menjadi keharusan.
- Reformasi pembiayaan syariah diperlukan untuk menjangkau sektor produktif dan UMKM secara lebih luas. Ini melibatkan sinergi antara lembaga keuangan dan sekuritas syariah yang dikolaborasikan dalam ekosistem dengan program dana sosial syariah berbasis digital.
- Penguatan riset dan inovasi di bidang kosmetik, farmasi, dan makanan halal disamping pendalaman dan inovasi produk keuangan syariah harus menjadi prioritas. Kolaborasi antara universitas, industri, dan regulator perlu dimasifkan untuk mendorong daya saing produk halal Indonesia di pasar global.
Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat untuk menapaki peran global dalam ekonomi syariah. Dengan orkestrasi KNEKS yang jika perlu dapat diperkuat perannya menjadi badan Pengembangan Ekonomi Syariah (BPES) dan semangat integrasi antar-aktor, Indonesia bukan hanya bisa menjadi pusat halal dunia, tetapi juga pemimpin ekonomi syariah global yang membawa nilai-nilai inklusif, etis, dan berkelanjutan ke dalam arus utama pembangunan global. Inilah saatnya Indonesia tidak hanya berbicara dalam angka, tetapi dalam kepemimpinan nilai.
