Kak Seto: Dengarkan Pendapat Anak Terkait Program Barak Militer
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG–Program barak militer bagi siswa bermasalah yang diperkenalkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, masih memicu kontroversi. Salah satu pihak yang melayangkan kritik adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyampaikan beberapa hasil temuan mengenai program ini. Di antaranya, 6,7 persen siswa tidak memahami alasan mereka mengikuti program barak militer ini.
Menanggapi situasi ini, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, menekankan bahwa semua masukan dan kritik harus diterima oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meskipun demikian, ia juga melihat banyak aspek positif dari program ini.
“Karena semua ini demi kepentingan terbaik anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Di satu sisi, ada hak untuk tumbuh dan berkembang, dan di sisi lain, ada hak untuk dilindungi dari kemungkinan kekerasan, pemaksaan, eksploitasi, dan sebagainya,” ujar Seto, yang dikenal sebagai Kak Seto, ketika menghadiri Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tingkat Jawa Barat di Bandung, Selasa (20/5/2025).
Ketika ditanya apakah program ini dapat diterapkan di daerah lain di luar Jawa Barat, Kak Seto menyatakan bahwa hasil dari program ini perlu terus dipantau. Dia juga menekankan pentingnya mendengarkan suara anak-anak peserta yang menilai program ini secara positif.
“Kita lihat hasilnya nanti. Kita dengar suara anak-anak yang sebagian besar menyatakan positif dan setuju. Ayo jangan ragu untuk diterapkan di berbagai tempat,” katanya.
Kak Seto menilai bahwa program pendidikan berkarakter Panca Waluya yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dapat diimplementasikan di daerah lain.
“Sangat bagus dan mari kita tanyakan kepada anak. Salah satu hak anak adalah didengar pendapatnya. Jika ini baik untuk mereka, silakan, karena ada unsur hak anak tetapi juga ada kewajiban anak,” katanya.
Dari hasil pemantauannya di lokasi pendidikan, menurut Kak Seto, program tersebut juga mengajarkan kewajiban anak menghormati guru dan orang tua, jauh dari unsur militerisme seperti yang banyak dikritik. “Artinya dipadukan dengan unsur bermain, yel-yel. Positif. Artinya anak benar-benar menunjukkan. Ada beberapa anak yang bersujud kepada ibunya. Ini adalah prestasi,” katanya.
Kak Seto menilai bahwa program pendidikan karakter Panca Waluya yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi adalah solusi nonformal untuk melengkapi pendidikan di sekolah dan rumah. “Sekali lagi, ini adalah salah satu cara pendidikan nonformal untuk melengkapi pendidikan formal dan informal dalam keluarga. Seperti gagasan Bang Pramono, pergi ke gelanggang olahraga, gedung kesenian dan sebagainya. Itu kan melengkapi, bukan hanya ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga etika, estetika, kesehatan, nasionalisme,” paparnya.
Menurutnya, penanganan anak jika tidak hati-hati akan memberikan dampak negatif. Kak Seto menilai usia anak yang kreatif dan penuh dinamika emosional jika tidak didukung lingkungan yang positif maka anak akan mudah terjerumus dalam aktivitas kriminal seperti narkoba hingga tawuran.
