Staf Khusus Nadiem Klarifikasi Perannya dalam Pengadaan Chromebook yang Diselidiki Kejagung
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Ibrahim Arief (IA) yang selama ini dikenal sebagai staf khusus mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim menolak atribusi jabatannya di kementerian. Melalui pengacaranya, Indra Haposan Sihombing, Ibrahim menjelaskan bahwa ia selama ini merupakan konsultan pribadi di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Ibrahim juga membantah keterlibatannya sebagai pihak yang merekomendasikan kepada Nadiem mengenai pilihan laptop dengan sistem operasi Chromebook daripada Windows dalam pengadaan program digitalisasi pendidikan yang memakan anggaran Rp 9,9 triliun.
Indra menyatakan, “Yang pertama kami sampaikan, dan kami luruskan bahwa, mas Ibam (Ibrahim) ini, bukan seorang staf khusus. Tetapi mas Ibam ini adalah konsultan individu,” usai mendampingi Ibrahim dari pemeriksaan di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung (Kejagung), di Jakarta, pada Kamis (12/6/2025) malam.
Ibrahim diperiksa sebagai saksi oleh tim penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) terkait investigasi korupsi pengadaan laptop Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek 2019-2023. Penyidik memeriksa Ibrahim selama lebih dari 12 jam.
Indra menjelaskan bahwa Ibrahim telah menjadi konsultan individu di Kemendikbudristek sejak September 2020. Menurut Indra, kliennya bertugas memberikan masukan terkait perangkat-perangkat teknologi untuk program-program kementerian tersebut.
Terkait program digitalisasi pendidikan, kata Indra, Ibrahim juga menjalankan perannya sebagai konsultan dengan memberikan masukan. Terutama, kata Indra, menyangkut analisis sistem operasi dan perangkat lunak untuk pengadaan laptop dalam pelaksanaan program digitalisasi pendidikan.
Namun, menurut Indra, peran Ibrahim sebagai konsultan tidak memberikan preferensi atau kecondongan dalam memilih sistem operasi manapun yang sesuai untuk program digitalisasi pendidikan itu. Sebagai konsultan, kliennya menganalisis semua sistem operasi antara Windows dan Chromebook.
“Beliau (Ibrahim) ditugaskan untuk memberikan masukan tentang penggunaan Chromebook atau Windows kepada kementerian (Kemendikbudristek), agar dipertimbangkan dan diputuskan oleh kementerian sendiri,” ujar Indra.
