Syekh Ibnu Athaillah Menjelaskan Sebab Kegelisahan dan Kesedihan di Hati
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskan bahwa kegelisahan dan kesedihan yang dialami hati seorang hamba terjadi karena pandangan hati tersebut terhalang dari cahaya Allah SWT.
“Kegelisahan dan kesedihan yang dialami hati adalah karena pandangan yang terhalangi.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)
Hati memang tidak selalu dapat mempertahankan cahaya Allah SWT. Jika cahaya tersebut menyinari hati, maka kebahagiaan akan dirasakan. Namun, jika cahaya itu terhijab, maka kesedihan yang akan mendominasi.
Ketahuilah bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada jumlah harta yang dimiliki, jumlah pasangan, atau banyaknya anak yang diasuh. Kebahagiaan itu ditemukan saat anda mampu hidup bersama Sang Pencipta di jalan kebenaran.
Apabila anda sering merasa dilanda kesedihan, ketahuilah bahwa hati anda terhalang dari-Nya, membuat anda buta dan tidak mendapatkan cahaya-Nya.
Bukalah tabir hati anda segera dengan amalan shalih dan ibadah-ibadah yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT. Semoga hati anda kembali mendapatkan cahaya-Nya dan hidup dalam kebahagiaan sejati, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Hikam dengan tambahan penjelasan oleh DA Pakih Sati Lc dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya.
Perhatikanlah kehidupan para sahabat, wali, dan orang shalih. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan namun hati mereka tetap dipenuhi kebahagiaan. Seolah-olah, segala sesuatu di dunia ini kecil dan tidak berarti dalam pandangan mereka. Semua itu terjadi karena hati mereka telah mendapatkan cahaya-Nya.
Tiga Cara Mengatasi Stres Menurut Syekh Nawawi al-Banteni
Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaihul Ibad mengungkapkan tiga cara untuk mengatasi atau menghilangkan kegundahan hati atau stres. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional akibat faktor luar.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa stres adalah reaksi fisik maupun emosional yang muncul ketika seseorang harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Stres adalah bagian alami dan penting dari kehidupan, tetapi jika terlalu berat dan berkepanjangan dapat merusak kesehatan.
Syekh Nawawi al-Banteni menyampaikan pandangan para hukama, yakni para ahli hikmah, tentang cara mengatasi stres.
“Tiga hal yang dapat menghilangkan kegundahan adalah zikir (mengingat) Allah SWT, menjalin silaturrahim dengan para wali Allah, dan memperhatikan nasihat hukama.” (Kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Banteni)
Berzikir kepada Allah SWT bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca tahlil, hauqalah (La haula wa la quwwata illa billah), dan bermunajat kepada-Nya.
Munajat kepada Allah SWT bisa dilakukan dengan membaca doa seperti berikut:
“Wahai Dzat Yang Maha Penolong bagi setiap orang yang merana, yang menyeru kepada-Nya. Wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa orang yang sengsara. Wahai Dzat Yang Maha Bijaksana terhadap setiap orang yang bersalah dan durhaka. Wahai Dzat yang mencukupi setiap orang yang lebih mementingkan-Mu daripada dunianya.”
“Aku memohon kepada-Mu untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa aku capai tanpa pertolongan-Mu, menolak sesuatu yang tidak bisa aku tolak kecuali dengan kekuatan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu kebaikan yang penuh sejahtera dan kesejahteraan yang penuh kebaikan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di atas semua yang berbelas kasih.”
Dalam kitab Nashaihul Ibad dijelaskan bahwa para wali Allah adalah ulama dan aulia shalihin. Maksud dari silaturrahim kepada para wali Allah adalah agar kita mendapatkan petunjuk dari ajaran agama Islam yang menenangkan hati dan pikiran.
Nasihat hukama berisi petunjuk untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan oleh Abu Mujaddidul Islam Mafa.
