Operasi Penerbangan Haji Berjalan Lancar Tanpa Insiden Besar
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pelaksanaan fase keberangkatan embarkasi untuk angkutan udara haji tahun 1446 H/2025 M telah berlangsung dengan baik dan tertib. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan memastikan bahwa semua aspek teknis dan operasional penerbangan sudah dipersiapkan dengan matang untuk mendukung kelancaran pelaksanaan ibadah haji melalui transportasi udara.
“Secara umum, angkutan udara haji tahun 1446 H/2025 M berjalan dengan lancar tanpa adanya kecelakaan besar atau insiden yang berarti,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (3/6/2025).
Lukman menyampaikan bahwa beberapa penundaan memang tercatat selama proses keberangkatan. Namun, hal tersebut adalah bagian dari dinamika operasional yang wajar, terutama disebabkan faktor teknis di lapangan atau kondisi cuaca di beberapa tempat. Meski demikian, operasional penerbangan tetap berjalan sesuai rencana dengan penanganan yang cepat dari semua pihak terkait, sehingga tidak mengganggu keseluruhan jadwal haji.
Angkutan udara haji tahun ini dilaksanakan oleh tiga operator penerbangan, yaitu Garuda Indonesia dengan 14 armada (enam Boeing B777 dan delapan Airbus A330), Lion Mentari Airlines dengan enam Airbus A330, dan Saudi Arabian Airlines dengan 15 armada (sembilan Boeing B777 dan enam Airbus A330).
“Semua armada tersebut sudah menjalani pemeriksaan kelayakan oleh inspektur Ditjen Hubud sebelum keberangkatan,” lanjut Lukman.
Lukman menjelaskan bahwa proses pemeriksaan akan terus dilakukan secara berkala selama masa angkutan haji sebagai bagian dari pengawasan berkelanjutan. Pemeriksaan meliputi berbagai aspek penting, mulai dari data umum pesawat, pemeriksaan fisik, status kelayakan terbang, hingga uji fungsi peralatan penting di dalam pesawat.
“Pemeriksaan kelayakan adalah salah satu tahapan penting untuk memastikan bahwa pesawat yang digunakan memenuhi seluruh aspek keselamatan dan kelayakan terbang,” ujar Lukman.
Selain pemeriksaan pesawat, Ditjen Hubud juga melakukan koordinasi intensif dengan maskapai terkait jadwal dan alokasi waktu penerbangan. Ini termasuk penetapan jadwal keberangkatan dan kepulangan jemaah, alokasi jadwal di bandara embarkasi dan debarkasi, serta koordinasi dengan otoritas bandara di Indonesia dan Arab Saudi, termasuk perizinan rute internasional dengan General Authority of Civil Aviation (GACA) Arab Saudi.
Dalam hal kesiapan maskapai, Ditjen Hubud memastikan semua operator memiliki armada yang cukup, kru terlatih, serta sistem dukungan teknis di lapangan. Termasuk kesiapan mekanisme penggantian pesawat jika terjadi kendala teknis atau situasi darurat lainnya.
“Angkutan haji adalah operasi berskala besar yang memerlukan kesiapan menyeluruh, tidak hanya pada armada pesawat, tetapi juga personel dan sistem pendukungnya. Kami pastikan semua aspek ini terkoordinasi dengan baik,” kata Lukman.
Di sisi bandara, Ditjen Hubud melakukan pengecekan dan inspeksi di bandara embarkasi dan debarkasi, termasuk koordinasi dengan pihak imigrasi untuk layanan Makkah Route, pengawasan fasilitas check-in, terminal khusus, ruang tunggu, serta ruang ibadah. Ditjen Hubud juga mengawasi operasional lalu lintas udara dan pengawalan di sisi udara untuk menjamin kelancaran pergerakan jemaah hingga naik ke pesawat, serta memastikan penanganan bagasi dilakukan sesuai prosedur, terutama dalam mengantisipasi kelebihan bagasi.
Lukman menegaskan bahwa seluruh penerbangan haji telah memiliki dokumen perizinan lengkap, termasuk persetujuan penerbangan dari Kementerian Perhubungan, izin diplomatik dari Kementerian Luar Negeri, serta izin keamanan dari Mabes TNI. Koordinasi lintas sektor juga dilakukan dengan Kementerian Agama, maskapai, operator bandara, imigrasi, bea cukai, dan karantina.
“Kami tidak hanya fokus pada aspek teknis operasional, tetapi juga mengutamakan koordinasi yang menyeluruh dengan seluruh pemangku kepentingan. Ini kunci dari keberhasilan pelaksanaan angkutan haji yang lancar dan aman,” ucapnya.
Ditjen Hubud juga telah menyiapkan rencana kontingensi jika terjadi kondisi luar biasa seperti keterlambatan, pembatalan akibat cuaca buruk atau masalah teknis. Termasuk prosedur penanganan jemaah yang tertinggal, sakit, atau meninggal dunia.
Ditjen Hubud, ujar Lukman, terus melakukan evaluasi dan mitigasi secara berkala untuk memastikan seluruh proses penyelenggaraan penerbangan berjalan sesuai standar keselamatan dan pelayanan tertinggi. Langkah ini merupakan komitmen berkelanjutan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta kenyamanan pengguna jasa transportasi udara di seluruh wilayah Indonesia.
“Pelaksanaan angkutan haji tahun ini adalah rangkaian kegiatan yang melibatkan lintas kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan. Kami bersyukur hingga saat ini semua proses berjalan lancar. Ke depan, kami akan terus menjaga kualitas dan kesiapan layanan hingga seluruh jemaah kembali ke tanah air dengan selamat,” kata Lukman.
