Uni Eropa Pertimbangkan Pembekuan Kesepakatan Dagang dengan Israel
BERITA TERBARU INDONESIA, BRUSSEL – Pada akhir bulan ini, para menteri luar negeri Uni Eropa akan menggelar diskusi formal mengenai usulan untuk meninjau kembali perjanjian Uni Eropa yang mengatur hubungan perdagangan dengan Israel. Israel dituduh berpotensi melanggar kesepakatan dagang terkait agresi dan blokade yang diberlakukan terhadap Jalur Gaza.
Blokade yang dilakukan Israel terhadap bantuan kemanusiaan di Gaza telah memaksa salah satu kelompok bantuan utama untuk menutup dapur umum mereka pada hari Kamis. Mereka menghadapi kekosongan gudang dan kekurangan pasokan di wilayah yang dilanda perang tersebut.
Saat ini, konflik di Gaza memasuki fase baru di mana Israel berencana untuk ‘memperluas dan mengintensifkan operasi,’ kata Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir. Agresi Israel di Gaza sejauh ini telah mengakibatkan 52 ribu kematian, mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan kelaparan akut bagi sekitar 2 juta penduduk Gaza.
Israel dianggap telah melanggar ketentuan perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Hubungan antara UE dan Israel, yang merupakan mitra dagang utama, diatur oleh Perjanjian Asosiasi yang mensyaratkan hubungan didasarkan pada penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi.
Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menyatakan rasa frustrasi di antara negara-negara anggota UE karena tidak mampu menghentikan agresi Israel di Gaza. Pernyataan ini disampaikan setelah memimpin pembicaraan informal antara para menteri luar negeri UE di Polandia pada hari Kamis.
Pemerintah Belanda telah menyatakan niatnya untuk memblokir perjanjian tersebut sambil menunggu tinjauan Uni Eropa mengenai kepatuhan pemerintah Israel terhadap perjanjian yang berlaku sejak tahun 2000. Kallas menyebut bahwa para menteri akan membahas hal ini pada 20 Mei.
Menteri Luar Negeri Belanda, Caspar Veldkamp, menekankan pentingnya memberikan sinyal bahwa Uni Eropa prihatin dengan blokade berkelanjutan terhadap bantuan kemanusiaan dan keputusan Israel untuk mengintensifkan upaya perang. Kekhawatiran ini, menurutnya, juga dirasakan luas oleh negara-negara Eropa lainnya.
Menteri Luar Negeri Slovenia, Tanja Fajon, menyatakan bahwa dunia telah gagal dalam ujian kemanusiaan dan menekankan perlunya tindakan lebih serius terhadap pelanggaran hukum internasional dan hukum humaniter.
Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, mengatakan lebih penting dari sebelumnya untuk menyuarakan pandangan Eropa menentang situasi di Gaza saat ini. UE, katanya, tidak akan pernah menerima pengusiran warga Gaza.
Meskipun demikian, Uni Eropa terpecah dalam menanggapi konflik ini dan tidak memiliki pengaruh besar terhadap Israel. Austria, Jerman, dan Hongaria mendukung sikap Israel, sementara Irlandia, Spanyol, dan Slovenia sangat vokal mendukung Palestina.
Tahun lalu, Irlandia, Spanyol, dan Slovenia mencoba menekan mitra Uni Eropa mereka untuk meninjau apakah Israel telah melanggar peraturan, tapi upaya tersebut tidak berhasil, dan Kallas tidak optimis akan keberhasilan pada 20 Mei. ‘Anda tahu betul bahwa mengenai isu-isu tertentu, kami memiliki pandangan yang sangat berbeda,’ katanya.
