Zionisme, Imperialisme, dan Kolonialisme di Palestina
Bagaimana kita dapat memahami akar konflik antara Arab dan Yahudi di Palestina? Dan apa solusi untuk masalah ini? Dalam kesempatan ini, saya ingin mengutip pandangan kritis dari Edward Said yang sudah meninggal, seorang intelektual Palestina yang tinggal di Amerika. Menurutnya, imperialisme dan kolonialisme adalah dua istilah yang paling relevan untuk menjelaskan akar dari konflik ini. Imperialisme adalah teorinya, sedangkan kolonialisme adalah praktiknya.
Imperialisme memberikan kerangka teoretis tentang bagaimana kaum pribumi dipandang, dilihat, dan kemudian diperlakukan. Dalam kasus Palestina, pandangan-pandangan filosofis ini diproduksi dan direproduksi di berbagai bidang: akademik, sastra, politik, dan media. Berikut beberapa kutipan yang disampaikan oleh Said.
Conder, seorang penulis, menggambarkan orang Arab dengan ungkapan berikut: ‘mereka sangat bodoh, fanatik, dan terutama pembohong besar’. Penulis lain, Kitchener, menyatakan dalam bahasa yang berbeda, namun dengan makna yang sama pejoratif: ‘perusak yang kejam, tidak berpendidikan’.
Selaras dengan itu, Drake juga mengemukakan bahwa orang Arab, ‘para fellahin, semuanya adalah tipe kemanusiaan terburuk’. Flinders Petrie menggunakan kata ‘liar’ untuk menyebut orang-orang Arab, sementara Stanley Cook menuduh bahwa ada ‘kelemahan bawaan dalam karakter penduduk Arab’; ada ‘kerusakan yang cepat’ dan peradaban Arab tak lebih dari ‘tipu muslihat’. Di atas segalanya, Macalister menutup penilaiannya tentang orang Arab dengan kesimpulan absurd: ‘negeri yang paling tidak progresif di muka bumi’.
Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut, maka ‘kaum pribumi’ dianggap tidak pernah eksis, hanya ada pada tingkat frase, bukan substantif. Orang Arab dianggap tidak relevan. Palestina adalah ‘tanah kosong’, sementara jutaan penduduk Arab yang telah menghuni tanah tersebut selama berabad-abad tak lebih dari sekadar kerumunan kosong tak bernilai. Dalam bahasa Rabbi Meir Kahane: mereka hidup di tempat dan waktu yang salah. Jika demikian, kemana Arab Palestina itu harus pergi?
Kahane menjawab dengan sederhana: ‘Saya tidak peduli’. Pandangan inilah yang kemudian menjadi legitimasi bagi kedatangan orang-orang ‘beradab’ yang akan memberikan nilai beda terhadap ‘Arab yang tidak beradab’. Untuk konteks Palestina, para pendatang ‘beradab’ itu adalah Yahudi Eropa dan Amerika, untuk mentransformasikan ‘tanah kosong’ itu, dari ‘Timur yang gelap’ menjadi ‘Barat yang terang’.
