11 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri Berubah Status, UIN Hadir di Madura
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Sebanyak 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) kini resmi mengalami perubahan status. Salah satu kampus yang mengalami perubahan tersebut berada di Pulau Madura, yaitu IAIN Madura di Pamekasan yang kini menjadi UIN Madura.
Selain UIN Madura, beberapa kampus lain yang mengalami perubahan status antara lain UIN Syekh Wasil Kediri, UIN Sunan Kudus, UIN Jurai Siwo Lampung, UIN Palangka Raya, UIN Palopo, UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, IAIN Datuk Laksamana Bengkalis (dulu STAIN), dan IAHN Mpu Kuturan (dulu STAHN).
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar menyatakan, Presiden RI memberikan perhatian besar terhadap kualitas kepemimpinan di pendidikan tinggi. Kepemimpinan yang diharapkan adalah yang didasarkan pada data kuantitatif dan kinerja yang terukur.
“Presiden ingin setiap pimpinan PTKN mampu membawa perubahan nyata. Kita harus bisa bersaing secara sehat dengan perguruan tinggi umum, meskipun saat ini kita menghadapi tantangan besar dalam hal anggaran,” ujar Nasaruddin dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (27/5/2025).
Dia menjelaskan bahwa proses seleksi rektor di PTKN berlangsung lebih demokratis, konstruktif, dan aman dibandingkan perguruan tinggi umum. Mekanisme ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari penjaringan lokal oleh senat yang melibatkan unsur mahasiswa, dilanjutkan dengan panitia seleksi independen yang berisi tokoh-tokoh pendidikan nasional, dan diakhiri di tingkat kementerian.
Panitia seleksi terdiri dari akademisi senior yang kredibel dan bebas dari kepentingan pribadi. Kemenag juga melibatkan Inspektorat Jenderal dan BNPT untuk menilai aspek integritas, moralitas, serta potensi keterlibatan dalam aktivitas radikal.
“Kami ingin memastikan bahwa rektor terpilih benar-benar membawa misi kebangsaan,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini.
Nasaruddin juga menyoroti perbedaan anggaran yang terjadi. Menurutnya, satu fakultas kedokteran di PTN umum bisa mendapatkan anggaran lebih besar dari seluruh PTKN yang ada di Indonesia. Dia berharap ada keberanian dari pemerintah daerah untuk turut memberikan dukungan terhadap kampus keagamaan.
Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, yang mewakili Istana menyampaikan pesan khusus dari Presiden RI. Presiden, kata Juri, memberikan perhatian serius pada mekanisme pemilihan rektor dan arah transformasi PTKN ke depan.
“Presiden mendorong adanya sinergi antara kampus, kementerian, dan istana. Bahkan sekarang, komunikasi bukan hanya dengan tiga besar calon rektor, tetapi sejak lima besar. Ini penting agar arah pembangunan kampus sejalan dengan visi nasional,” ujar Juri.
Pada kesempatan itu, Presiden juga mempertanyakan kesiapan PTKN untuk benar-benar menjadi universitas yang unggul, tidak hanya secara nama, tetapi juga dalam tata kelola, kurikulum, dan kompetensi lulusannya.
“Transformasi IAIN menjadi UIN tidak boleh berhenti di nomenklatur. PTKN harus mencetak lulusan yang adaptif, analitis, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan energi, digitalisasi, dan ketahanan pangan,” jelas Juri.
Presiden bahkan mendorong agar kurikulum PTKN segera direview agar sesuai dengan kebutuhan masa depan bangsa. Harapannya, dalam waktu mendatang, ada nama PTKN yang masuk dalam daftar 100 besar universitas terbaik dunia.
“Ini bukan sekadar harapan simbolik. Pesan ini adalah strategi dari Presiden agar kita berpikir jauh ke depan. PTKN harus menjadi bagian penting dari kemajuan bangsa,” pungkas Juri.
