Sering Buang Air Kecil Lebih dari 10 Kali Sehari? Mungkin Tubuh Anda Mengalami 1 dari 7 Kondisi Ini
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pernahkah Anda merasa ingin buang air kecil terus-menerus dan bertanya-tanya apakah itu normal? Anda tidak sendirian. Kebiasaan buang air kecil memang jarang dibahas, namun para ahli menekankan pentingnya mengetahui frekuensi buang air kecil yang normal. Dorongan yang konstan untuk ke toilet bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang mendasari.
Menurut Cleveland Clinic, umumnya orang buang air kecil antara empat hingga 10 kali sehari, dengan rata-rata tujuh kali. Jika lebih dari itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Menurut ahli urologi dan Direktur Medis Urology Cancer Specialists di Los Angeles, Adam Ramin, MD, rasa ingin buang air kecil terus-menerus bisa menunjukkan dua masalah yang berbeda: sering buang air kecil dan buang air kecil berlebihan. “Sering buang air kecil berarti seringnya dorongan untuk pergi ke kamar mandi untuk mengosongkan kandung kemih, meskipun tubuh masih memproduksi urine dalam jumlah normal,” ungkap Ramin.
Di sisi lain, buang air kecil berlebihan berarti tubuh memproduksi urine dengan cepat, memerlukan dorongan untuk sering ke kamar mandi. Dalam kondisi ini, produksi urine yang tinggi menyebabkan kandung kemih cepat penuh.
Meskipun evaluasi dokter adalah yang terbaik untuk gejala spesifik, memahami penyebab paling umum di balik dorongan konstan ini adalah langkah awal yang baik. Berikut adalah tujuh alasan umum mengapa Anda merasa harus buang air kecil terus-menerus:
1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Peradangan dapat memicu sering buang air kecil seperti yang terjadi pada Infeksi Saluran Kemih (ISK). Ketika bakteri masuk ke saluran kemih, mereka menyebabkan infeksi dan mengiritasi dinding kandung kemih serta uretra. “Ini membuat Anda buang air kecil lebih sering, tetapi biasanya dengan jumlah urine yang sedikit,” ujar seorang ahli urologi, Martina Ambardjieva, MD. Gejala lain yang mungkin muncul adalah nyeri saat buang air kecil atau nyeri di punggung bawah. ISK umumnya diobati dengan antibiotik.
2. Stres
Kondisi kesehatan mental memiliki efek signifikan pada kesehatan fisik, termasuk sistem kemih. “Sering buang air kecil kadang-kadang bisa menjadi reaksi terhadap kecemasan atau stres, mungkin terkait dengan respons alami tubuh menghadapi stres (fight-or-flight),” kata Ambardjieva. Namun, ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami bagaimana proses patofisiologis otak akibat stres dapat memengaruhi refleks buang air kecil.
3. Ada Tekanan pada Kandung Kemih
Ambardjieva menjelaskan, terkadang struktur abnormal di dalam tubuh akibat kondisi patologis dapat menyebabkan dorongan untuk sering buang air kecil. Ini bisa termasuk tumor kanker atau tumor jinak di dalam atau dekat kandung kemih, massa panggul, batu kandung kemih, dan obstruksi lainnya.
Penyebab umum lainnya yang memengaruhi jutaan pria, terutama di atas usia 50, adalah pembesaran prostat atau benign prostatic hyperplasia (BPH). “BPH menekan uretra karena prostat yang membesar, menghambat aliran urine. Ini mengiritasi kandung kemih, sehingga sedikit saja urine sudah bisa menyebabkan kandung kemih berkontraksi, memicu dorongan untuk buang air kecil,” katanya.
4. Kandung Kemih Terlalu Aktif (Overactive Bladder)
Overactive bladder adalah kondisi di mana otot kandung kemih berkontraksi tanpa disengaja, bahkan saat kandung kemih hampir kosong. “Orang dengan kandung kemih terlalu aktif akan merasakan dorongan tiba-tiba dan kuat untuk segera pergi ke kamar mandi. Jika tidak diobati, ini bisa menyebabkan inkontinensia urine,” kata Samadi. Perubahan gaya hidup, latihan dasar panggul, dan pengobatan dapat membantu meredakan gejalanya.
5. Iritasi atau Cedera Saraf Tulang Belakang
Anda mungkin tidak mengira bahwa dorongan sering buang air kecil bisa disebabkan oleh iritasi atau cedera saraf tulang belakang, tetapi Ramin mengatakan penyebab neurogenik ini bisa menjadi biangnya. Gangguan neurologis dan cedera pada saraf dapat mengganggu pesan saraf antara otak dan otot yang mengendalikan kandung kemih, menyebabkan masalah dengan kontrol serta pengosongan kandung kemih. Beberapa kondisi terkait termasuk Alzheimer, cerebral palsy, stroke, gangguan saraf, diabetes, dan Parkinson.
6. Infeksi Menular Seksual (IMS)
Infeksi akibat penyakit menular seksual (IMS) juga menjadi penyebab umum sering buang air kecil. “Bakteri dan virus seperti Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, dan Herpes simplex dapat menginfeksi uretra dan menyebabkan uretritis,” kata Ambardjieva. Uretritis dapat memicu sering buang air kecil. Tes rutin dapat memastikan Anda mendapatkan pengobatan tepat jika IMS adalah penyebab di balik gejala Anda.
7. Perubahan Pola Makan atau Obat-obatan
Makanan dan minuman seperti alkohol, kafein, dan pemanis buatan memiliki efek diuretik yang bisa meningkatkan dorongan untuk buang air kecil. Demikian pula, banyak obat-obatan yang dirancang untuk membersihkan cairan ekstra tubuh. “Obat-obatan ini membuat pasien harus lebih sering buang air kecil,” ujarnya. Obat-obatan seperti lithium, inhibitor SGLT2 untuk diabetes, SSRI, dan beberapa obat tekanan darah bisa menjadi pemicunya.
