Pengalaman Mantan Sandera di Gaza: Kebaikan Yahya Sinwar
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV – Kisah para pejuang Palestina yang menawan warga Israel pada 7 Oktober 2023 kembali menjadi sorotan. Kali ini, seorang mantan sandera mengungkapkan pengalaman baik yang dialaminya selama penahanan oleh pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, yang telah gugur tahun lalu.
Menurut laporan media Israel pada Rabu, Yarden Bibas, seorang sandera yang telah dibebaskan, menceritakan pengalamannya bertemu dengan Yahya Sinwar saat berada dalam penahanan. Ia mengungkapkan, pemimpin Hamas tersebut mengizinkannya untuk tinggal bersama temannya, David Cunio, yang juga ditawan di Gaza, selama sekitar dua minggu sebelum mereka dipisahkan.
- 326 Meninggal Kelaparan, 300 Keguguran Akibat 80 Hari Blokade Israel di Gaza
- RS Indonesia di Gaza Kembali Diserang, Tiga Generator Listrik Terbakar Hebat
- PBB: 14 Ribu Bayi Gaza Terancam Meninggal 48 Jam Mendatang
“David adalah sahabatku, dia telah bersamaku sepanjang hidupku,” ungkap Bibas kepada Channel 12. Bibas mengaku bertemu Cunio pada hari ketika istrinya, Sharon Aloni Cunio, dan anak kembar mereka dibebaskan dari penahanan pada 27 November 2023 sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata sementara.
“Dia dipindahkan ke arah saya di dalam terowongan. Saat pertama kali dia melihat saya, dia terkejut. Dia mengira dia melihat hantu. Saya memeluknya sebelum dia melanjutkan ke tempat berikutnya,” ujar Bibas.
“Saat Sinwar tiba di terowongan, saya mengatakan kepadanya bahwa ini adalah sahabat saya dan saya ingin tinggal bersamanya. Dia mengatakan ‘tidak masalah, kamu bisa tinggal bersamanya’. Setelah sekitar dua minggu, mereka memisahkan kami. Saya tidak tahu mengapa,” tambah Bibas.
Sinwar meninggal dalam konfrontasi dengan tentara IDF di Gaza pada bulan Oktober. Ia tewas saat melakukan perlawanan terhadap pasukan penjajah di bagian selatan Gaza.
Ini bukanlah pertama kalinya ada kesaksian positif tentang perlakuan para penyandera di Hamas. Keith Segal, seorang tawanan Israel yang dibebaskan oleh Hamas pada Sabtu (1/2/2025) sebagai bagian dari fase keempat pertukaran tahanan, mengkritik pemerintah Israel dalam negosiasi pertukaran sandera sambil memuji perlakuan Hamas selama penahanannya.
Segal, yang berusia 65 tahun, mengungkapkan bahwa Hamas memenuhi kebutuhannya, menyediakan makanan, minuman, dan perawatan medis. Ia mengatakan, seorang dokter dikirim untuk merawatnya ketika ia mengalami masalah kesehatan.
Segal juga mendapatkan menu vegetarian. Hamas menghindari penggunaan minyak hewani agar sesuai dengan kondisi kesehatan Segal, yang menurut Al Jazeera, menunjukkan perhatian Hamas terhadap pilihan makanannya meskipun dalam kondisi tawanan.
Segal pun mengucapkan terima kasih kepada Hamas, berlawanan dengan klaim Israel yang menyatakan para sandera di Gaza berada dalam kondisi buruk. Sedangkan terhadap pemerintah Israel, Segal melontarkan kritik keras karena dianggap tidak melakukan langkah tegas dalam upaya membebaskan para tawanan.
Para pejuang Palestina menculik sekitar 250 tentara dan warga sipil dalam serangan pada 7 Oktober 2023. Sandera-sandera tersebut ditahan untuk ditukar dengan pembebasan puluhan ribu warga Palestina yang ditahan tanpa proses hukum di penjara-penjara Israel. Hamas menawarkan pembebasan seluruh tawanan sipil dengan syarat Israel menghentikan serangan ke Gaza, namun tawaran tersebut ditolak oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Saat ini, sekitar 57 tawanan masih belum dipulangkan ke Israel. Beberapa di antaranya dilaporkan telah meninggal akibat serangan udara Israel ke Gaza selama 19 bulan terakhir.
