Kenapa Beberapa Orang Suka Pedas dan Lainnya Tidak? Ini Penjelasan Ahli Gizi
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Sambal atau hidangan pedas adalah bagian penting dari kuliner Indonesia. Meskipun banyak masyarakat Indonesia menyukai makanan pedas, setiap orang memiliki tingkat toleransi pedas yang berbeda.
Menurut seorang pakar gizi dan Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, dr Karina Rahmadia Ekawidyani, perbedaan toleransi terhadap makanan pedas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga psikologis. “Capsaicin (zat aktif dalam cabai) menstimulasi reseptor TRPV1 yang mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Setiap orang memiliki tingkat toleransi reseptor yang berbeda. Bahkan ada yang lahir tanpa reseptor ini, sehingga tidak merasakan pedas sama sekali,” ungkapnya dalam sebuah keterangan tertulis yang dirilis pada Minggu (29/6/2025).
Toleransi ini juga dapat meningkat seiring waktu melalui kebiasaan mengonsumsi makanan pedas. Selain itu, persepsi atau pemikiran seseorang terhadap rasa pedas pun dapat memperkuat atau memperlemah reaksi tubuh terhadap sensasi tersebut.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa makanan pedas seperti cabai mengandung berbagai zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Cabai kaya akan vitamin C dan vitamin A yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit, sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, kandungan capsaicin dalam cabai juga dapat membantu menurunkan berat badan. Capsaicin mampu meningkatkan suhu tubuh dan mempercepat metabolisme, sehingga kalori dalam tubuh lebih cepat terbakar.
Dia menjelaskan bahwa capsaicin terbukti secara ilmiah memiliki berbagai manfaat lain, seperti menghambat pertumbuhan sel kanker tanpa merusak sel sehat di sekitarnya. “Capsaicin juga memiliki efek analgesik (pereda nyeri) dan antiinflamasi, serta berdampak positif pada sistem kardiovaskuler dan metabolik, termasuk memperbaiki profil lipid dan fungsi endotel atau dinding pembuluh darah,” ujar Karina.
Namun demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dalam mengonsumsi makanan pedas. Konsumsi berlebihan dapat mengiritasi saluran cerna dan meningkatkan refluks asam lambung yang menyebabkan gejala seperti mulas, sakit perut, kembung, diare, hingga muntah.
Makanan pedas yang dikonsumsi secara tidak bijak juga dapat menimbulkan efek lain seperti insomnia, berkurangnya sensitivitas lidah, bahkan meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif. “Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi lebih dari 50 gram cabai per hari secara rutin memiliki risiko penurunan kognitif hampir dua kali lebih besar dibandingkan yang mengonsumsi dalam jumlah lebih sedikit,” tambahnya.
Dr Karina juga memberikan beberapa tips agar masyarakat dapat menikmati makanan pedas dengan aman. Di antaranya, hindari makan pedas saat perut kosong, perhatikan porsi dan batas toleransi pribadi, jangan makan pedas sebelum tidur, minum susu setelah mengonsumsi makanan pedas, pilih cabai dengan tingkat kepedasan ringan seperti cabai hijau atau paprika, serta buang biji cabai dan lapisan tipis yang menempel di dinding buah cabai untuk mengurangi rasa pedas.
