Penangkapan Mahasiswa: Apakah Gelombang Baru Dimulai?
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Aparat keamanan telah melakukan sejumlah penangkapan terhadap mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia. Penangkapan ini kerap kali terkait dengan bentrokan antara aparat dan mahasiswa, dari Jakarta hingga Papua.
Awal bulan ini, terjadi penangkapan yang berhubungan dengan aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Kantor Gubernur dan Gedung DPRD Jawa Tengah pada Kamis, 1 Mei 2025. Polrestabes Semarang menetapkan enam mahasiswa sebagai tersangka dalam kerusuhan tersebut.
- 93 Mahasiswa Trisakti yang Ditangkap Masih Ditahan, Polisi Sebut Tiga Orang Positif Ganja
- Begini Kronologi Aksi di Balai Kota, Amnesty Minta Polisi Bebaskan 93 Mahasiswa Trisakti
- Aksi di Balai Kota DKI Ricuh, Puluhan Mahasiswa Trisakti Ditangkap
Sejumlah 14 mahasiswa ditangkap saat itu. Dari keenam tersangka, tiga diantaranya adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan inisial MAS (22), KM (19), dan ADA (22). Tiga lainnya adalah mahasiswa Universitas Semarang berinisial ANH (19); mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang berinisial AZG (21); dan mahasiswa Universitas Diponegoro berinisial MJR (20).
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol M Syahduddi, menyatakan bahwa keenam tersangka memiliki peran berbeda dalam kerusuhan pada peringatan May Day. Syahduddi menuduh mereka sebagai bagian dari kelompok Anarko.
Sementara itu, pada 6 Mei, seorang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FRSD) ITB berinisial SSS ditangkap oleh Bareskrim Polri terkait unggahan meme di media sosial yang diduga terkait presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo. Setelah penangkapan, polisi memberikan penangguhan penahanan kepada SSS.
Pada 13 Mei 2025, Polrestabes Semarang menangkap dua mahasiswa Undip, MRS dan RSB, karena diduga terlibat dalam aksi penyekapan seorang polisi setelah kerusuhan peringatan May Day pada 1 Mei 2025. Keduanya ditangkap di Tembalang, Semarang.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, Aufa Atha Ariq, menyatakan bahwa narasi penyanderaan tidak tepat. Menurut Aufa, pascakerusuhan May Day, massa aksi sempat menahan seorang anggota Polda Jateng yang penyamarannya terbongkar. Dua temannya yang ditangkap sebenarnya berusaha melindungi intel tersebut dari amukan massa. “Mereka mengamankan intel agar tidak dihabisi oleh massa,” ujarnya pada Kamis, 15 Mei 2025.
