Negara Teluk di Posisi Menguntungkan, Saatnya Mendesak Trump untuk Palestina
Oleh: Fitriyan Zamzami, Jurnalis BERITA TERBARU INDONESIA
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON – Selama kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab minggu ini, posisi negaranya tidak lagi sebesar sebelumnya. Saat ini, AS sangat bergantung pada ketiga negara tersebut, dan ini adalah kesempatan bagi negara-negara Teluk untuk menekan Trump dalam hal Palestina.
Media dari Israel telah mencatat adanya perubahan kekuatan ini. Pada hari Senin, lembaga penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan bahwa selama kunjungan Trump ke Saudi akhir pekan ini, Riyadh akan mencoba mengajaknya bergabung dalam paket kesepakatan regional yang mencakup pembentukan negara Palestina.
Kesepakatan itu mencakup usulan Palestina yang didemiliterisasi, mengakhiri konflik di Gaza sambil membubarkan Hamas, serta normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab. Media tersebut mengutip seorang pejabat kerajaan Saudi yang tidak disebutkan namanya, yang menyatakan ada banyak optimisme di Riyadh bahwa Trump akan mendukung kesepakatan ini.
Mengapa Negara-negara Teluk Memiliki Kekuatan Tawar yang Kuat?
Koresponden luar negeri Simon Tisdall dari the Guardian menulis bahwa pemimpin negara-negara Teluk memiliki kekuatan untuk mempengaruhi Trump, jika mereka mau menggunakannya. Saat ini, Trump sangat bergantung pada negara-negara tersebut – lebih daripada pada Eropa – sebagai mitra diplomatik, keamanan, dan keuangan.
Salah satu pengaruh utama negara-negara Teluk adalah dalam hal finansial. Dengan meningkatnya tekanan inflasi akibat kebijakan tarif, Trump ingin menunjukkan kesepakatan yang memasukkan kekayaan negara-negara Teluk ke dalam perekonomian AS, termasuk komitmen investasi bernilai miliaran dolar AS dari Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi.
Ketiga negara ini tidak hanya berfungsi sebagai pilar stabilitas regional, tetapi juga sebagai proksi kekuatan AS tanpa perlu melibatkan militer langsung. Dari penguasaan energi fosil dan likuiditas keuangan hingga mediasi konflik regional, setiap negara bagian ini memiliki kekuatan untuk menekan Trump.
Menurut Geopolitical Monitor, biaya energi yang tinggi juga dapat memperburuk inflasi domestik, yang melemahkan narasi ekonomi Trump. Dalam konteks inilah Arab Saudi, yang mengontrol harga minyak dunia, berada di posisi strategis.
Saudi memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kenaikan harga guna menyeimbangkan anggaran nasionalnya dan mempertahankan Visi 2030 yang ambisius, terutama mengingat beberapa proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang sedang dikembangkan. Trump dapat menawarkan jaminan keamanan yang diperluas atau kesepakatan senjata dengan imbalan konsesi jangka pendek terhadap produksi minyak.
Namun, setiap kompromi yang dicapai bersifat tentatif. Negara-negara Teluk semakin sadar bahwa pengaruh energi adalah salah satu dari sedikit alat yang tersisa yang memberi mereka kesetaraan dalam kemitraan asimetris dengan Washington.
Faktor China juga menjadi pertimbangan penting dalam kunjungan ini. Trump akan berupaya menekan negara-negara Teluk, tidak hanya UEA, Qatar, dan Arab Saudi, tetapi juga keenam anggota GCC, untuk secara nyata menjauhkan diri dari Beijing. Washington melihat Teluk sebagai titik penting dalam ketegangan AS-China yang lebih luas.
Bagaimanapun, negara-negara ini semakin melakukan diversifikasi hubungan mereka, dengan melibatkan China secara ekonomi namun tetap bergantung pada keamanan AS. Trump perlu meyakinkan rekan-rekannya di Teluk bahwa hubungan lebih dekat dengan Washington tetap merupakan pilihan paling aman bagi mereka. Hal ini memerlukan motivasi ekonomi yang kuat bagi negara-negara Teluk untuk melakukannya, terutama dalam bidang kerja sama keamanan dan perdagangan teknologi tinggi.
