Skip to content
logo-Berita-Terkini-Indonesia

BTI

Liputan Berita Terkini Indonesia

Primary Menu
  • Home
  • pemerintahan
  • Politik dan Hukum
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Hak Asasi Manusia
  • Home
  • politik
  • Negara Teluk di Posisi Menguntungkan, Saatnya Mendesak Trump untuk Palestina
  • politik

Negara Teluk di Posisi Menguntungkan, Saatnya Mendesak Trump untuk Palestina

Intan Permatasari Mei 12, 2025
negara-teluk-di-atas-angin-saatnya-menekan-trump-bebaskan-palestina

Negara Teluk di Posisi Menguntungkan, Saatnya Mendesak Trump untuk Palestina

Oleh: Fitriyan Zamzami, Jurnalis BERITA TERBARU INDONESIA

BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON – Selama kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab minggu ini, posisi negaranya tidak lagi sebesar sebelumnya. Saat ini, AS sangat bergantung pada ketiga negara tersebut, dan ini adalah kesempatan bagi negara-negara Teluk untuk menekan Trump dalam hal Palestina.

Media dari Israel telah mencatat adanya perubahan kekuatan ini. Pada hari Senin, lembaga penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan bahwa selama kunjungan Trump ke Saudi akhir pekan ini, Riyadh akan mencoba mengajaknya bergabung dalam paket kesepakatan regional yang mencakup pembentukan negara Palestina.

Kesepakatan itu mencakup usulan Palestina yang didemiliterisasi, mengakhiri konflik di Gaza sambil membubarkan Hamas, serta normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab. Media tersebut mengutip seorang pejabat kerajaan Saudi yang tidak disebutkan namanya, yang menyatakan ada banyak optimisme di Riyadh bahwa Trump akan mendukung kesepakatan ini.

Mengapa Negara-negara Teluk Memiliki Kekuatan Tawar yang Kuat?

Koresponden luar negeri Simon Tisdall dari the Guardian menulis bahwa pemimpin negara-negara Teluk memiliki kekuatan untuk mempengaruhi Trump, jika mereka mau menggunakannya. Saat ini, Trump sangat bergantung pada negara-negara tersebut – lebih daripada pada Eropa – sebagai mitra diplomatik, keamanan, dan keuangan.

Salah satu pengaruh utama negara-negara Teluk adalah dalam hal finansial. Dengan meningkatnya tekanan inflasi akibat kebijakan tarif, Trump ingin menunjukkan kesepakatan yang memasukkan kekayaan negara-negara Teluk ke dalam perekonomian AS, termasuk komitmen investasi bernilai miliaran dolar AS dari Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi.

Ketiga negara ini tidak hanya berfungsi sebagai pilar stabilitas regional, tetapi juga sebagai proksi kekuatan AS tanpa perlu melibatkan militer langsung. Dari penguasaan energi fosil dan likuiditas keuangan hingga mediasi konflik regional, setiap negara bagian ini memiliki kekuatan untuk menekan Trump.

Menurut Geopolitical Monitor, biaya energi yang tinggi juga dapat memperburuk inflasi domestik, yang melemahkan narasi ekonomi Trump. Dalam konteks inilah Arab Saudi, yang mengontrol harga minyak dunia, berada di posisi strategis.

Saudi memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kenaikan harga guna menyeimbangkan anggaran nasionalnya dan mempertahankan Visi 2030 yang ambisius, terutama mengingat beberapa proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang sedang dikembangkan. Trump dapat menawarkan jaminan keamanan yang diperluas atau kesepakatan senjata dengan imbalan konsesi jangka pendek terhadap produksi minyak.

Namun, setiap kompromi yang dicapai bersifat tentatif. Negara-negara Teluk semakin sadar bahwa pengaruh energi adalah salah satu dari sedikit alat yang tersisa yang memberi mereka kesetaraan dalam kemitraan asimetris dengan Washington.

Faktor China juga menjadi pertimbangan penting dalam kunjungan ini. Trump akan berupaya menekan negara-negara Teluk, tidak hanya UEA, Qatar, dan Arab Saudi, tetapi juga keenam anggota GCC, untuk secara nyata menjauhkan diri dari Beijing. Washington melihat Teluk sebagai titik penting dalam ketegangan AS-China yang lebih luas.

Bagaimanapun, negara-negara ini semakin melakukan diversifikasi hubungan mereka, dengan melibatkan China secara ekonomi namun tetap bergantung pada keamanan AS. Trump perlu meyakinkan rekan-rekannya di Teluk bahwa hubungan lebih dekat dengan Washington tetap merupakan pilihan paling aman bagi mereka. Hal ini memerlukan motivasi ekonomi yang kuat bagi negara-negara Teluk untuk melakukannya, terutama dalam bidang kerja sama keamanan dan perdagangan teknologi tinggi.

Continue Reading

Previous: Tiga Hektare Ladang Ganja di Pegunungan Gayo Lues Dimusnahkan oleh TNI dan BNN Aceh
Next: Dua Bunga Rafflesia Arnoldii Raksasa Mekar di Agam, Memukau Wisatawan Mancanegara

Related News

kunjungan-balasan-presiden-peru-dina-boluarte-akan-bertemu-prabowo-di-istana
  • politik

Kunjungan Resmi, Presiden Peru Dina Boluarte Bertemu Prabowo di Istana

Maya Lestari Agustus 11, 2025
setelah-ingin-caplok-gaza-kini-israel-hendak-gulingkan-otoritas-palestina
  • politik

Setelah Berniat Caplok Gaza, Kini Israel Ingin Gulingkan Otoritas Palestina

Dewi Anjani Agustus 11, 2025
prabowo-indonesia-butuh-pertahanan-kuat-di-tengah-gejolak-global
  • politik

Prabowo: Pentingnya Pertahanan Tangguh untuk Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Dewi Anjani Agustus 11, 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
auto7slot auto7slot auto7slot

You may have missed

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
viral-meme-tanah-nganggur-diambil-negara-menteri-nusron-minta-maaf-ini-penjelasan-maksudnya
  • Berita

Meme Tanah Nganggur Jadi Viral, Menteri Nusron Meminta Maaf, Berikut Penjelasannya

Dedi Saputra Agustus 12, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.