Pertamina NRE Siap Kembangkan Energi Nuklir di Indonesia
BERITA TERBARU INDONESIA, KARAWANG — CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), John Anis, mengungkapkan minatnya untuk ikut serta dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
“Iya (tertarik), karena kami juga ingin selalu berkontribusi,” ungkap John ketika ditemui setelah acara Groundbreaking Proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL yang berlangsung di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat, pada Ahad (8/10/2023).
- Bank Dunia–IAEA Sepakat Kembangkan Energi Nuklir Aman untuk Negara Berkembang
- Rusia dan Kanada Tawarkan Kerja Sama PLTN, Indonesia Siapkan Peta Jalan Energi Nuklir
- Indonesia dan Rusia Matangkan Studi Reaktor Nuklir Modular 500 Megawatt
John membahas target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, yaitu pembangunan PLTN dengan kapasitas 500 MW. Pertamina NRE, sebagai perusahaan energi di Indonesia yang fokus pada energi baru dan terbarukan, berusaha untuk berpartisipasi dalam pengembangan PLTN ini.
“Tentu saja nanti pemerintah yang memutuskan, apakah (Pertamina NRE) akan berkolaborasi dengan PLN atau pihak lain, tidak masalah,” ujar John.
Sementara pemerintah mempersiapkan regulasi terkait pengembangan PLTN, Pertamina NRE secara bersamaan melakukan studi mengenai nuklir, mulai dari teknologi yang digunakan, lokasi pengembangan PLTN, hingga sumber energi yang akan dimanfaatkan.
Beberapa negara yang dipelajari oleh Pertamina terkait penerapan PLTN meliputi Rusia, China, Kanada, Swiss, dan Amerika Serikat. “Jadi, dari pemerintah membahas regulasinya, kami mencari teknologinya,” kata John.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa peta jalan pengembangan PLTN sudah disusun hingga 2034 dengan kapasitas mencapai 500 MW. Sebanyak 250 megawatt (MW) akan dibangun di Sumatera, dan 250 MW lainnya akan dibangun di Kalimantan.
Indonesia berencana menggunakan teknologi SMR (small modular reactor/reaktor modular kecil) di kedua lokasi tersebut. RUPTL mengungkapkan potensi sumber energi di Kalimantan Barat, termasuk uranium, tenaga air, biomassa, biogas, dan batu bara.
Uranium merupakan bahan bakar utama dalam reaktor nuklir. RUPTL menyebutkan bahwa terdapat potensi uranium sebesar 24.112 ton di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Namun, pemanfaatan nuklir sebagai energi primer masih menunggu kebijakan dari pemerintah dan studi kelayakan pembangunan PLTN.
